Rabu, 29 Desember 2010

NIC(K)KY

Dingin.
Udara terasa sangat dingin, padahal tidak sedang turun hujan.
Nikky memeluk tubuhnya dengan lengannya sendiri, mendekap ransel besarnya sekuat mungkin, mencoba memberi kehangatan pada tubuhnya yang menggigil.
Bulu kuduk Nikky terasa berdiri di balik sweater yang dipakainya, seingatnya sweater ini cukup tebal untuk menghangatkan tubuhnya. Tapi ternyata tidak di malam ini, dimana ia tengah terduduk sendirian di sebuah perhentian busway.
Nikky menguap, untuk yang kesekian kalinya sejak ia duduk disini nyaris 3 jam yang lalu.
Bagus Nicola, sekarang kau bahkan tidak tau harus tidur dimana malam ini.
Sayup-sayup terdengar suara nyanyian sumbang diiringi sedikit petikan gitar dan suara orang-orang tertawa, Nikky langsung siaga. Instingnya mengatakan orang-orang yang masih berkeliaran di jalan raya pada waktu nyaris tengah malam begini pastilah bukan orang baik. Suara itu terdengar makin mendekat.
“Sendirian aja nih, Cewek?” salah satu yang termuda dari gerombolan pemuda berkaos hitam-bercelana juga hitam-berambut a la Kangen Band itu mencondongkan tubuhnya ke arah Nikky. Umurnya paling tidak 15 tahun, kalau dia bersekolah mungkin masih duduk di bangku kelas 1 SMA, seperti adik Nikky, Satria. Tapi dilihat dari tampang dan penampilannya, Nikky meragukan ia bersekolah.
Nikky memaksakan sebuah senyum ramah untuk mereka. Hal utama yang diajarkan ibunya jika diganggu berandalan adalah; jangan memandang remeh mereka, berikan senyum sopan untuk menghargai mereka, karena mereka akan semakin menjadi jika merasa direndahkan.
“Mau ikut kami, Cantik? Hehehe, daripada dingin sendirian disini mendingan ikut kami, anget...” tawar yang lainnya sambil dengan lancangnya duduk di samping Nikky, diikuti tawa derai 4 temannya yang lain.
Jantung Nikky mulai berdegup kencang.
Rasa menyesal menyergap dirinya, kalau saja tadi ia tidak di dorong emosi sesaatnya untuk kabur dari rumah, mungkin sekarang dia sedang tertidur nyenyak di kamarnya yang hangat dan aman.
Sebuah Mazda RX-8 hitam berhenti tepat di depan mereka, seorang pria berusia sekitar 25 turun dari pintu pengemudi lalu menarik tangan Nikky dengan protektif.
“Adek! Kemana aja kamu? Kakak udah cari kamu kemana-mana, pulang yuk!”
Nikky bengong, gerombolan preman tadi segera bubar, sayup-sayup terdengar gerutuan mereka. Pria tadi menarik tangan Nikky dan menuntunnya masuk ke jok penumpang, lalu ia sendiri duduk di sebelah Nikky setelah sebelumnya memasukan ransel Nikky yang cukup besar ke jok belakang.
Setelah bengong cukup lama karena bingung, akhirnya Nikky dapat bersuara,
“Siapa kamu?”

***

“NiKky?” Nikky menyebutkan nama itu dengan janggal dan heran. “Namamu NiKky?”
“Ya, ada yang salah dengan nama Nicky?” Dia menjawab pertanyaan Nikky dengan pertanyaan lain sambil tetap berkonsentrasi pada kemudinya, memandang fokus pada jalanan yang diterangi lampu-lampu kota.
“Tidak, hanya saja... namaku juga Nikky.”
Dia menoleh dan menatap Nikky sejenak, lalu tersenyum.
Ganteng juga...
“Wah wah waaaa, tampangmu yang begitu kaget seperti mengatakan sebenarnya kita saudara kembar yang terpisah sejak lahir hahaha,” tawanya enak didengar, Nikky ikut tertawa mendengar kelakarnya.
“Hahaha, bukan begitu maksudku. Hanya saja, ini baru pertama kalinya aku berkenalan dengan seorang lain yang juga bernama Nikky.”
“Masa'? Perasaan di Indonesia Nicky adalah nama yang cukup populer, tak jarang orang menamai anaknya dengan nama Nicky. Teman SD ku dulu juga bernama Nicky, tapi dia lelaki, sama sepertiku. Baru kali ini aku bertemu Nicky perempuan.”
“Ya, aku memang sering mendengar nama Nikky, tapi baru kali ini aku berkenalan langsung dengan seseorang bernama Nikky. Namaku sebenarnya Nicola, Nikky adalah nama panggilanku sejak kecil. Omong-omong, bagaimana kau mengeja namamu?”
“N-I-C-K-Y. Kamu?”
“Oh, ternyata beda di penulisan. Aku N-I-K-K-Y.”
Hening sejenak.
“Jadi,” Nicky menoleh lagi dan menatap Nikky sejenak sebelum kembali berkonsentrasi pada kemudinya, “apa yang membuatmu duduk sendirian di tempat seperti tadi pada tengah malam begini?”
“Aku... ini terlalu klasik untuk terjadi di penghujung tahun 2010.” Nicky tertawa mendengarnya. “Apa?”
Nicky menggeleng. “Dipikir-pikir lucu juga, kita baru membicarakan tentang kenapa kamu bisa berada disana sendirian tadi setelah mendebatkan tentang nama kita, padahal coba pikir mana yang lebih penting?” Nikky ikut tertawa, benar juga apa kata Nicky. “Jadi, kenapa? Apanya yang terlalu klasik?”
“Well, aku kabur dari rumah, menggertak ibuku yang berniat menjodohkanku dengan anak rekan bisnis ayahku. Klasik sekali bukan?” Nikky menceritakan secara singkat sejarahnya ia bisa berada di pinggir jalan pada pukul setengah 1 malam dengan sinis. “Oh hmm, sebenarnya 'berniat' bukan kata yang tepat. 'Memaksa' adalah kata yang lebih tepat.” ralat Nikky.
“Hmm, biar kutebak kelanjutannya. Kau sudah memiliki kekasih, orangtuamu tidak mau menerima kenyataan itu dan begitu pula kau, tidak mau menerima keputusan orangtuamu untuk menjodohkanmu. Lalu setelah drama melelahkan yang panjang di rumah, kau akhirnya memutuskan untuk kabur, sebagai bentuk penggertakan agar orangtuamu menyesal telah memaksamu, benar?”
Nikky berpikir sebentar, seolah menilai skenario yang diberikan Nicky.
“Hmm hampir tepat, kecuali bagian kekasih itu. Aku masih jomblo sebenarnya.”
“Loh? Lalu kenapa tidak mau dijodohkan?


-bersambung dulu ah cape-

lies

BIG or small,
LIES ARE LIES!

Gue gak suka dibohongin, sekecil apapun kebohongan itu! Ngerti gak sih?!

Selasa, 28 Desember 2010

Kamis, 16 Desember 2010

Gogombalan

He asked me what is my favorite thing, then i get a little bit confused and said:
"Well it's a quite hard question, baby, because my favorite is not just a single thing."
He said: "Just mention it one by one, baby, i want to know."
Then i said: "My favorite sound is your voice. My favorite song is your laugh. My favorite picture is your photograph. My favorite smell is your fragrance... Oh, i think i can summarize it: MY FAVORITE THING IS YOU :)"

my favorite dialogue between him and i

He said: "Hal terbodoh yang pernah saya lakukan adalah menyianyiakan kamu!!!"
Well, then i said: "And i was so stupid to ever let my self loved a selfish stubborn jerk like YOU!"

Selasa, 07 Desember 2010

Longlasting Relationship

Dy gue seneng deh, belakangan ini orang-orang terdekat gue akhirnya nemuin cinita sejati mereka :">
Dari mulai diri gue sendiri, sahabat-sahabat gue, aa gue, adik gue, aiiiiih senangnyaaaaaa >.<
Mereka keliatan mulai pacaran serius dan membina a longlasting relationship ihihihihi
Jujur gue bener2x ikut seneng buat mereka, gue seneng ngeliat orang2x yang gue sayang akhirnya nemuin orang terakhir buat mereka sayang.
Daaaaaan buat hubungan gue sendiri, gue bukan cuma pengen ini jadi a longlasting relationship, gue pengen ini jadi AN EVERLASTING RELATIONSHIP :> ahiiiiiiiw
Amin yaallah *praying*

Senin, 06 Desember 2010

No Ordinary Love

This could have been just another day
But instead we're standing here
No need for words, it's all been said
in the way you hold me near
I was alone on this journey
You came along to comfort me
Everything I want in life is right here

Cause
This is not your ordinary
no ordinary love
I was not prepared enough
to fall so deep in love
This is not your ordinary
no ordinary love
You were the first to touch my heart
Made everything right again
with your extraordinary love

I get so weak
when you look at me
I get lost inside your eyes
sometimes the magic is hard to believe
but you're here before my weary eyes
you brought joy to my world
set me so free
I want you to understand
you are every breath that I breathe

From the very first time that we kissed
I knew that I just couldn't let you go at all
From this day on, remember this:
That you're the only one that I adore
Can't we make this last forever
This can't be a dream
cause it feels so good to me

Minggu, 05 Desember 2010

GAK PROFESIONAL!

Aduh dy gue kesel nih dy sama temennya cowo gue, sebut aja namanya H
Singkat cerita gini ya, dia ada bisnis gitu sama cowo gue jualan baju, suppliernya tuh temennya cowo gue yang lain sebut aja namanya R
Si R nitipin baju dagangannya ke cowo gue untuk dijual lagi dan si H pengen ikutan bisnis, jadi dia juga ikutan ngambil tu baju
Dan sampe skrg ya dy tolong sampe sekarang dia belum juga ngembaliin duit baju itu! Otomatis jadi cowo gue yang ditagih tagihlah sama si S!
Udah 3 bulan lebih dy dan setiap ditagih dia bilang ga sempet ga sempet ga sempet
Jujur gue muak, sementara dia selalu sempet buat pacaran sama ceweknya yang GAK BANGET!
Iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih demi apa gue keseeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeel
Gak profesional, gak tanggung jawab anjir baru punya pacar sih jadi gitu
Dan yah dy bukannya mau nyimpang tapi sumpah cewenya tuh emg GAK BANGET
A***** KESEL BGT GUE IH!

Jumat, 03 Desember 2010

if only

Dyyyyyyyyyyyyy
Gue baru beres nonton film If Only, tau kan? Yang jennifer Love Hewit itu loh
Pas smp dulu gue udah pernah nonton ni film sekali, dulu aja gitu ya pas umur gue baru 14 taun, gue udah nangis bgt nntn ni film
Apalagi skrg, dimana gue udah 17taun, udah ngerti dan bisa ngebayangin bgt gimana perasaannya Samantha pas ditinggal sama cowonya.
Ga itu doang, gue bisa ngebayangin dan ikut kecewa saat cowonya berkali-kali ngecewain dia dan nyepelein dia.
Sumpah sediiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih
Gue nangis nih sampe mata bintit, mana besok kuliah pagi oh god what a university -,-
Menurut gue film If Only ini recommended bgt deh buat ditonton terutama buat para cowo, biar kalian sadar.
Cuma ada satu cara untuk mempertahankan orang yang kalian cintai tetap ada di sisi kalian, hargailah dia dan cintailah dia dengan segala perlakuan kalian. Karena kalau kalian cuma cinta di hati dan di mulut doang mah ga guna, harus ada prakteknya.
If Only kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen bangeeeeeeeeeeeeeet :'(((((((

Kamis, 02 Desember 2010

GUE TAKUT

Diaryyyyyy gue takuuuuuuuuuuuut
Dulu dia pernah kaya gini, dulu bgt dan itu bener2x sakit
lalu dia berubah jadi baik kaya sekarang, tapi tiba2x hari ini dia ga ngasih kabar seharian!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Well emg ada alesannya sih ga kaya dulu tapi gue tetep takut yaallah takut bgt gue gamau gamau gamau kaya dulu lagi gaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak
Its a big NO NO NO absolutely NO
Aduh dy, suddenly my tears is falling and i cant stop it :'(((((((((((((
Gue tau ini lebay tapi plisYa Tuhan

AAAAAAAAAAAAAAAAAH

Rancu bgtlah ini udah, curhat juga ga akan jelas gue susah ngetik, bisi keypad kebasahan trs rusak
Dadah diary

Minggu, 28 November 2010

I Love You, Kireina

Namaku Kireina, umurku 16 tahun.
Hari itu di Dufan, kami -yang bersekolah di SMA yang jaraknya tidak jauh dari Ancol- membolos di hari jumat, karena terlambat datang dan malas dapat hukuman. Aku, Tiara, Cita, Aldo, Tirta, dan Kael.
Sinar mentari begitu cerah, menyilaukan pandangan kami, menyinari tawa dan keceriaan kami.
"Naik kicir-kicir yuuuuuk!" Tiara menarik Aldo, pacarnya, sambil melambai-lambaikan tangan ke arah kami, mengajak kami bergabung di antrian wahana kicir-kicir.
"Yaaaah jangan kicir-kicir dong, gue gak berani! Bianglala aja yuuuk?"
"Wuuuu payah nih, Rei. Ayo, dong ah, gak asik bangeeet," Kael menepuk bahuku.
Aku menggeleng kuat-kuat, meyakinkan mereka bahwa aku benar-benar takut.
"Kalian naik aja deh sana, gue tunggu disini, sekalian fotoin kalian. Gimana?" tawarku.
"Gue temenin lo naik bianglala deh, mau? Daripada bengong disini." celetuk Tirta sedikit mengagetkanku dengan tawaran itu. Berduaan saja dengan Tirta yang selama ini diam-diam ku kagumi? Waaah, ini sih ketiban durian runtuh namanya!
"Emang lo gak mau naik kicir-kicir bareng yang lain, Ta?" tanyaku lugu,
"Gak ah, gue mau naik bianglala aja sama lo," katanya sambil mengacak lebut rambut panjangku. Tak dapat dihindari hatiku berdesir dan mukaku langsung memerah.
Anak-anak yang lain tersenyum dan menatap kami penuh kecurigaan melihat tingkah Tirta yang tak biasa itu, lalu melambaikan tangan pada kami sebelum akhirnya pergi ke arah antrian wahana kicir-kicir.
Lalu aku dan Tirta berjalan bersama ke arah wahana bianglala, dengan jantungku tak henti yang berdegup kencang.

***

Berat...
Kepalaku berat sekali, rasanya seperti telah tidur lama dan sulit bangun lagi...
Membuka mata saja rasanya sulit sekali, apa aku sakit?
Ibu... Rasanya aku ingin berteriak memanggil Ibu, bukankah jika aku sakit Ibu biasanya selalu ada untukku?
Tapi kenapa tenggorokan ini rasanya begitu kering, hingga untuk mengucap satu kata "Ibu" pun rasanya sulit sekali?
Tunngu, bau ini... Wangi tubuhnya Tirta.
Ya... Mungkin Tirta yang sedang menungguiku. Sekarang setalah aku pikir-pikir, aku begitu merindukannya.
Sebenarnya sudah berapa lama aku terbaring seperti ini?
Aku memaksakan membuka mataku secara perlahan.
"Tirta..." suaraku terdengar lemah dan asing, bahkan di telingaku sendiri.
"Rei? Kamu udah sadar?" Suara itu terdengar agak kaget bercampur. Sebuah tangan yang besar dan agak kasar menyentuh pipiku, rasanya seperti tangan seorang lelaki dewasa. Seperti tangan Ayah.
Saat akhirnya aku bisa melihat sekelilingku dengan jelas, aku menyadari bahwa aku sedang berada di sebuah kamar rumah sakit yang hening dan putih. Dan lelaki paruh baya itu bukan seorang yang ku kenal.
"Siapa kamu?" Aku langsung siaga dan tercekat, tapi kepalaku langsung dilanda pusing yang amat sangat saat aku mencoba duduk.
Lelaki itu mencoba membaringkanku kembali, "Berbaringlah, kamu belum cukup kuat untuk duduk."
"Om siapa? Aku kenapa? Mana Ibu? Ayah? Tirta?" Rasanya masih ada begitu banyak pertanyaan di kepalaku, tapi aku terlalu lemas untuk menanyakannya satu persatu.
"Jangan panggil aku Om. Aku Bayu, saudara jauhmu. Kamu mendapat kecelakaan tertabrak mobil, kamu sudah koma selama satu bulan."
Hah dia bercanda, dari penampilannya, umurnya paling tidak 35 tahun, sementara aku 16 tahun. Tentu saja aku harus memanggilnya Om.
Kecelakaan? Aku sama sekali tidak dapat mengingatnya. Bukankah seharusnya kalau aku mendapat kecelakaan, aku dapat mengingat kejadiannya?
"Berhenti memandangiku dengan pandangan curiga seperti itu, aku bukan orang jahat, justru akulah satu-satunya orang yang kamu punya sekarang. Nah sekarang karena kamu sudah sadar, aku akan mengurus administrasi rumah sakit untuk lalu membawamu pulang. Tunggulah disini sebentar." Suaranya tegas dan tak terbantahkan, aku benci caranya bicara padaku seolah-olah aku harus menuruti perkataannya.
"Tunggu! Dimana orangtuaku? Kenapa kamu yang menungguiku disini?"
"Rei, kamu sudah terbaring tak sadarkan diri selama sebulan lebih, dalam kondisi seperti itu, dokter bilang kamu akan sulit membedakan mana kenyataan dan mana mimpi. Kamu sudah tinggal bersamaku semenjak kamu SD, tidak ada orangtua. Berhentilah bicara dan sebaiknya kamu istirahat." Lalu ia berjalan keluarkamar dengan agak gusar.
Aku terperangah. Apa katanya tadi?
"Lalu... Tirta? Om!" Tapi percuma, ia sudah berlalu dan suaraku yang lemah tak mungkin terdengar sampai keluar kamar.
Tubuhku yang sudah lemas rasanya semakin lemas hingga seperti tak bertulang. Mimpi katanya? Tak mungkin. Tak mungkin, maksudnya tadi aku yatim piatu? Aku bahkan masih dapat mengingat suara Ibu dan Ayah dengan jelas.
Tanpa terasa air mata ku mengalir, air mata kebingungan, frustasi.
Aku terbaring lemah dan menangis.
Dan kekasihku, Tirta... Apakah dia juga mimpi? Tidak mungkin!
Aku masih bisa mengingat dengan jelas suaranya, wajahnya, harum tubuhnya...
Aku bahkan masih bisa mengingat hari dimana dia menyatakan cinta.
Tirta, seandainya kamu ada disini...

***

"Tirta, lihat! Orang-orang terlihat seperti semut dari atas sini ya?" kataku ceria sambil menunjuk kerumunan orang di bawah dari kaca bianglala. Tirta hanya tersenyum sambil tetap duduk di tempatnya, di sebrang tempat dudukku. "Hey, kok diem aja sih?"
"Gak apa-apa, Rei."
"Lo... takut ketinggian ya?" tanyaku usil.
"Enak aja, ngga kok. Hahaha" Tawa Tirta terdengar dipaksakan.
"Hahahaha iya kan? Iya kan, Ta?"
"Engga!" katanya, mukanya memerah.
"Terus kenapa lo gak kamu ikut naik kicir-kicir bareng mereka? Lo takut kaaaan? Ngaku deh. Hihihi"
Tirta terdiam.
"Hahahaha gotcha! Gue juga takut kok sama kicir-kicir, Ta, tapi kalau bianglala gue ga takut. Kalau lo takut ketinggian ya? Makanya takut sama bianglala juga..."
"Rei," Panggilannya menghentikan celotehanku.
"Ya?" sahutku so cool.
"Gue gak ikut naik kicir-kicir karena pengen berduaan disini sama lo."
"Hah? Kenapa?" Jantungku mulai berdegup kencang tak keruan.
"Gue... Aku suka sama kamu, Kireina. Dari lama, sayang sama kamu." Matanya menatapku lurus, tajam saat mengatakan kata-kata indah itu, tanpa sedikitpun keraguan. Dan tanpa dapat dihindari, mukaku langsung memerah. "Aku mau jadi pacar kamu, Rei. Boleh?"
Aku mengannguk pelan, seyum simpul menghiasi wajahku.
Lalu aku berdiri untuk pindah ke tempat duduk di sebelahnya. Dengan seketika box bianglala itu bergoyang, Tirta langsung pucat dan berpegangan pada besi pintunya, erat sekali. Aku tertawa.
"Tuhkaaaaan, kamu memang takut ketinggian, ya? Hahahaha"
Tirta ikut tertawa sambil mengangguk, lalu memeluk pinggangku dan merapatkanku ke tubuhnya.
Bisikannya tidak hanya mampu menghentikan tawaku, tapi juga melelehkanku.
"I love you, Kireina."

***

"I love you, Kireina."
Suara itu rasanya masih jelas terngiang-ngiang di kepalaku.
Benarkah itu semua hanya mimpi?
Pintu kamar terbuka, Bayu masuk bersama seorang suster yang akan melepas suntikan infus di tangan kiriku.
"Mungkin akan terasa agak sakit, ditahan sedikit ya, Nona Kireina," Suster itu mengingatkan dengan senyuman yang lembut dan ramah. Aku diam, terlalu lemas dan bingung untuk mengatakan apapun.
Suster itu keluar kamar setelah sebelumnya mengucapkan selamat jalan dan lekas sembuh.
Bayu dalam sekejap mengangkatku ke dalam pangkuannya, membuatku terkesiap kaget.
"Lepaskan! Turunkan aku! Mau kemana kita?!" Aku memberontak.
"Pulang, kamu sudah sadar dan dokter bilang sudah boleh dirawat jalan." Suaranya yang tenang membuatku kesal.
"Hey, pulang kemana? Aku gak percaya kamu, aku gak kenal om om kayak kamu! Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri!" Aku tak peduli pada suster-suster dan pasien lain yang memandangi kami dengan heran.
"Kamu belum ingat semuanya, kamu baru sadar dari koma yang cukup lama. Sudahlah, lagipula kamu belum kuat jalan sendiri." Cengkramannya di tubuhku makin kuat, walau tak menyakitiku.
Akhirnya aku menyerah, aku terlalu lemah. Aku menangis hingga tertidur di pangkuannya.

Begitu sadar aku sudah berada di dalam sebuah kamar lain yang sama asingnya bagiku, dinding-dindingnya bercat abu muda dan pudar, cahaya yang masuk hanya sedikit dan memberikan kesan suram.
Aku memaksakan diri bangun dari tempat tidur, kakiku rasanya pegal sekali saat digerakan. Dan kepalaku langsung diserang pusing yang berputar-putar. Aku berpegangan ke dinding agar bisa terus berjalan sampai keluar kamar.
Aku mendapati diriku berada di sebuah rumah yang juga bercat abu muda dan suram. Rumah siapa ini? Aku tidak memiliki ingatan sedikitpun tentang rumah ini. Aku berkeliling sebentar.
Lalu aku menyadari suatu keanehan di rumah ini. Tidak ada satupun cermin disini.
Ada beberapa bingkai kayu untuk cermin yang kosong masih tergantung di dinding-dinding rumah ini, di pinggirannya terdapat pecahan cermin yang masih menempel. Binkai-bingkai yang terlihat janggal itu yang menyadarkanku tidak adanya cermin di rumah ini. Ada apa sebenarnya?
Pesawat telepon di meja kayu kecil itu memberikanku sebuah ide yang sebelumnya tak terpikirkan.
Ya, aku harus menelepon Ayah dan Ibu, mereka pasti khawatir sekali. Kupencet serangkaian nomor yang sudah kuhapal betul, nomor telepon rumahku.
"Nomor telepon yang Anda tuju belum terpasang..."
Aku menyerngitkan dahi heran, mungkinkah aku salah pencet nomor? Sekali lagi kupencet nomor telepon rumahku, kali ini dengan lebih pelan dan hati-hati. Tapi nihil, hasilnya tetap sama. Serangkaian nomor itu tak berhasil menyambungkanku dengan keluargaku.
Ah, Tirta! Bersemangat, aku memencet nomor ponsel Tirta yang juga kuhapal betul.
"Nomor telepon yang anda tuju belum terpasang..."
Aku mulai berkeringat dingin, aku tak mau menerima kenyataan yang disodorkan padaku, bahwa masa laluku hanya mimpi belaka.
Ah ya, tentu saja aku harus menelepon polisi! Lelaki 30 tahunan yang mengaku bernama Bayu itu kelihatannya bukan orang baik, dan lagi aku tidak mengenalnya. Mungkin saja dia penculik bukan?
Dengan agak gusar karena rasa takut, aku mulai memencet nomor telepon polisi.
"Rei!" Aku terpekik kaget sehingga gagang telepon itu terlepas dari peganganku. Bayu berjalan cepat ke arahku lalu mencabut kabel telepon itu kasar, kemudian memelototiku. Aku balas memelototinya.
"Kenapa aku tak boleh memakai telepon?"
"Berbahaya, kamu belum boleh berhubungan dengan dunia luar. Kembalilah ke kamar dan tidur." Perkiranku bahwa Bayu akan marah salah besar, suaranya tetap tenang seperti biasa. Sepertinya dia selalu berhasil mengontrol emosinya. Dan itu membuatku kesal.
"Memangnya kenapa?! Aku ingin pulang, aku ingin menelepon keluargaku!" Suaraku sendiri yang terdengar cengeng membuatku semakin kesal.
"Disinilah tempatmu pulang, aku keluargamu. Percayalah padaku, Rei. Aku bukan orang jahat." Suaranya datar tanpa emosi.
Aku berjalan gusar ke arah dinding dimana bingkai cermin kosong tadi tergantung lalu menunjuknya sambil memelototi Bayu. "Lalu apa ini?"
Bayu menghela nafas, berjalan mendekatiku tanpa mengatakan apapun.
"Jawab!" Aku mulai frustasi. "Kenapa tidak ada cermin di rumah ini?! Kenapa kamu memecahkan cermin-cermin ini?!" Aku mencoba mengangkat bingkai cermin kayu itu dari dinding.
Mata Bayu terbelalak kaget, ia mencoba memperingatkanku, "Rei! Itu berat..."
Tapi terlambat, aku terlanjur terhuyung kehilangan keseimbangan. Lalu...
Gelap.

***

Aku dan Tirta sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah. Seperti biasa, Tirta selalu mengantarkanku sampai rumah walalupun hanya naik bis kota lalu jalan kaki masuk ekdalam permahan tempatku tinggal.
"Ta, kemarin saat pulang les, lagi-lagi aku merasa ada yang mengikutiku loh."
"Yaaah, pacarku kan cantik, wajar kalau ada yang ngefans sampai ngikutin gitu. Hahahaha." Suasana hati Tirta hari itu sepertinya sedang sangat bagus, dia terus tertawa dan melontarkan lelucon-lelucon konyol sedari tadi.
"Ih, Tirta! Serius dong ah, kalau aku diculik gimana?" Kataku merajuk, pura-pura marah. Aku selalu suka saat Tirta sedang in a good mood begini.
Well, sejujurnya aku memang selalu menyukai Tirta. Bagaimanapun keadaannya.
"Aduh, Rei, Rei... Penculik juga milih-milih kali..." Aku memukul lengannya pelan lalu merajuk lagi. Tirta tertawa terbahak-bahak.
Walaupun begitu, aku tahu dia sebenarnya peduli, sangat peduli padaku. Dia selalu menemaniku pergi dan pulang sekolah, les pun kadang dia menemaniku kalau tak ada jadwal basket.
Kami telah 6 bulan berpacaran, dan Tirta baik sekali. Aku selalu merasa lebih dan lebih mencintainya lagi setiap harinya. Dn aku merasa beruntung, berterimakasih pada Tuhan yang telah mempertemukan aku dengannya.
Tak terasa kami sudah sampai di depan rumahku.
"Masuk dulu gak, Ta?"
"Gak deh, besok lagi aja ya, aku ada latihan basket sore ini."
Tirta mengecup keningku sekilas, seperti biasa. Lalu melambaikan tangan dan berjalan pulang.
Entah mengapa tiba-tiba saja aku begitu ingin memandangi punggungnya. Sampai dia hilang di tikungan sana, aku enggan masuk ke rumah.
Aku tersenyum memandang punggungnya yang lebar dan bidang.
"Tirta!" panggilku setengah berteriak. Tirta membalikan badan, kaget melihatku masih berdiri memandanginya.
"Apa? Masuk sana, udara dingin. Sepertinya mau hujan," serunya sambil melambaikan tangan.
Terimakasih untuk selalu ada dan menyayangiku, Tirta...
"Makasih ya..." Belum sempat ku selesaikan kalimatku, aku melihat muka Tirta berubah pucat dan matanya membelalak kaget.
"REI, KEPINGGIR!!!"
Aku menoleh ke belakang dan mendapati sebuah sedan hitam berkaca gelap hanya tinggal berjarak beberapa senti dari tubuhku. Lalu, tak ada lagi yang ku ingat selain sakit yang luar biasa saat tubuhku terasa remuk di trotoar.

***

Nafasku terengah-engah saat aku terbangun.
Kecelakaan itu.
Ya, mimpiku tadi pasti kecelakaan yang menimpaku hingga aku jadi seperti ini.
Berarti Tirta bukan mimpi! Aku terduduk dan mendapati Bayu tertidur di sofa sebelah tempat tidurku. Tangan kirinya dilapisi perban putih.
Ah ya, tadi aku pingsan saat mencoba mengangkat bingkai cermin yang berat itu. Aku teringat akan potongan cermin tajam yang masih tersisa di bagian pinggir bingkai, lalu termenung. Bayu terluka karena menyelamatkanku?
Mungkin dia tidak sejahat yang aku pikir.
Sekilas kulihat Bayu menggeliat dan terbangun. Aku mengalihkan pandanganku darinya.
"Kau sudah sadar?" tanyanya sambil berjalan ke arahku lalu memegang keningku. Aku mengangguk pelan. "Jangan melakukan hal bodoh seperti tadi lagi, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu padamu."
Hatiku berdesir. Benar, mungkin dia memang orang baik.
Bayu memakai jaketnya yang tebal lalu berjalan ke arah pintu.
"Mau kemana?" tanyaku.
"Kerja."
"Kerja? Kamu kerja apa?" tanyaku heran, jam dinding sudah menunjukan pukul setengah 8 malam.
"Macam-macam, di konstruksi bangunan, delivery pizza, salesman door to door, apa saja aku kerjakan selama itu menghasilkan uang dan halal." Aku tercenung. Biaya rumah sakitku pasti tak sedikit. Dia telah berusaha keras untuk hidupku, hatiku semakin mantap untuk mempercayainya.

Malam itu Bayu pulang lewat tengah malam lalu masuk ke kamarku untuk mengecek keadaanku. Aku pura-pura tidur saat ia masuk. Ia mengelus rambutku lembut lalu berbisik, "Cepatlah sembuh, Rei."

***

Sudah 2 minggu aku tinggal di rumah Bayu dan hubunganku dengannya sekarang sudah tak seburuk seperti pertama kali kami bertemu. Sekarang ia lebih banyak tersenyum dan kadang tertawa. Akupun sudah tak lagi terlalu mempermasalahkan masalah orangtuaku dan Tirta, toh kalau mereka memang benar ada, mereka akan mencariku sendiri. Lagipula Bayu benar-benar baik padaku.
"Aku pergi dulu ya, jangan keluar rumah." Bayu tidak pernah lupa mengingatkan pesan itu setiap hari saat dia akan pergi bekerja, aku mengangguk seperti biasa. "Hari ini aku pulang larut malam, tidak usah menungguku ya." katanya setelah menghabiskan sarapannya yang berupa roti bakar buatanku.
"Ok, makan malamnya aku simpan di lemari makanan ya, nanti Om tinggal hangatkan saja di microwave."
Bayu mengangguk lalu berjalan ke arah pintu setelah sebelumnya menegak habis susu coklatnya.
Aku mencuci piring sementara Bayu memakai sepatunya.
"Rei," panggilnya tiba-tiba.
"Ya?" sahutku tanpa menoleh, masih konsentrasi pada cucian. Tidak mendengar jawaban Bayu, aku akhirnya menoleh.
Bayu sedang menatapku sambil tersenyum hangat.
"I love you, Kireina."
Piring di tanganku nyaris terjatuh. Hatiku berdegup kencang, tak keruan.
Kenangan yang sudah 2 minggu terkubur mendadak bermunculan lagi di kepalaku, membuat kepalaku sakit. Bayu masih tersenyum padaku, senyumnya hangat dan dewasa. Beda dengan senyum Tirta yang ceria dan bersemangat.
Tentu saja beda, aku mengingatkan diriku sendiri. Untuk apa aku membanding-bandingkan senyum Tirta dan Bayu? Tentu saja beda. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku kuat-kuat, lalu tersenyum kiku pada Bayu.
"Thanks."

Sepeninggalan Bayu, aku nekat pergi keluar rumah.
Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi. Kata-kata Bayu tadi mengingatkanku kembali pada mimpi-mimpiku, yang ku yakini bukan hanya mimpi.
Perumahan ini tampak familiar, walaupun aku tidak bisa mengingat dengan jelas kapan aku pernah melihatnya. Asing, dan tampak aneh di mataku. Apanya yang aneh ya? Modelnya terlalu mewah dan modern sehingga mataku tidak biasa.
"Tante, kok pake piyama kelinci begitu sih? Kaya anak kecil saja, hahaha." Dua orang anak SD yang lewat menunjuk-nunjukku sambil menertawakaknku.
"Hey, aku baru 16 tahun, panggil aku kakak!" kataku, tidak terima dipanggil tante.
Mereka berdua saling lirik bingung lalu berlari sambil tertawa, menertawakanku.
Dengan kesal, aku berbalik arah. Di ujung sana terlihat sebuah taman kecil, aku berjalan ke arah sana.
Sepasang kekasih sedang duduk bercengkrama disana.
Deg.
Hatiku seolah terhenti.
Itu Tirta.
Mimpi-mimpiku selama ini terbukti nyata. Cowok itu sangat mirip Tirta, hanya potongan rambutnya saja yang berbeda.
Tubuhku mendadak lemas. Tirta punya kekasih lain?
Aku terduduk di aspal, seperti lumpuh.

***

"Boleh aku cium kamu?" tanya Tirta malu-malu. Aku mendengus pelan.
"Kamu gak perlu menanyakan hal-hal seperti itu." jawabku dengan muka memerah.
"Hahaha kamu malu."
"Kamu juga kan? Hahaha, kalau kamu mau berjanji akan ada di sisiku selamanya, kamu boleh melakukan itu." jawabku jahil.
"Seumur hidup ya? Hemm, gak jadi deh. Hahaha." Tirta tertawa aku mendengus kesal lalu memukul lengannya.
"Dasar nyebelin!"
Tiba-tiba bibir Tirta menyentuh lembut bibirku yang tengah berceloteh, singkat tapi dalam.
"Bercanda kok, selamanya aku akan ada di sisi Rei. Apapun yang terjadi, aku janji."
Aku tersenyum senang lalu memeluknya

***

Janji itu.
Mengapa dikhianati?
Aku tak mengerti, selama ini yang kupikirkan hanya Tirta.
Tapi ternyata ia sudah memiliki kekasih lain?
Air mataku turun tanpa dapat ditahan, terus mengalir deras seolah tak akan habis.
Sakit, rasanya sakit sekali.
"Rei! Sudah kubilang jangan keluar rumah..." Bayu muncul di belakangku lalu memakaikan jaketnya di tubuhku yang basah, tanpa kusadari hujan telah turun dan membasahi tubuhku hingga menggigil.
"Tirta..." Aku tak sanggup bicara.
"Ayo pulang, badanmu menggigil." Bayu tidak menggubris perkataanku lalu menggendongku. Aku memberontak. Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutku selain sedu sedan tangisku yang tak berhenti sedari tadi.
Bayu tidak mengatakan apa-apa, tapi matanya mencerminkan kepedihan, sama denganku. Ia dengan sabar mencengkramku agar tidak terjatuh, menaikanku ke taksi lalu memelukku yang terus menangis hingga jatuh tertidur di pelukannya.

***

"Tok tok tok."
Tamu? Selama aku tinggal disini belum pernah ada orang yang datang bertamu. Bayu sedang pergi kerja, aku tidak punya pilihan selain membukakan pintu untuk tamu itu sendiri. Akupun berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Mana Om?" tanya sang tamu begitu ku bukakan pintu.
Aku terkesiap seraya menutup mulutku yang menganga.
Itu Tirta.
"Tirta...?" suaraku tercekat.
"Ya, mana Om ku?" katanya ketus. Ada apa ini? Kenapa Tirta tidak mengenaliku? Tirta melirikku dengan sinis dari atas ke bawah. "Kelihatannya kau sudah sehat, kalau sudah bisa jalan, kerja dong! Ringankan beban Om ku walau sedikit." Nadanya meremehkan.
Aku baru akan memegang tangannya saat ia berkata,
"Paling tidak berpakaianlah sesuai umurmu, piyama kelinci seperti itu tidak cocok lagi di tubuhmu, Tante."
Aku bengong. Tak sanggup berkata-kata.
"Sudahlah, tampaknya untuk bicara pun kamu tak bisa, bilang saja pada Om aku mampir saat dia sudah pulang nanti."
Lalu dia pergi.
Aku berjalan sempoyongan seperti kehilangan nyawaku.
Aku berjalan ke arah pecahan cermin di bingkai yang tergantung di dinding.
Ku dekatlan pecahan cermin kecil itu pada wajahku.
Saat melihat pantulannya, aku terkesiap, lalu mengerti.

***

Aku sudah siap dengan baju yang rapi saat Bayu tiba di rumah.
"Rei, mau kemana kamu?"
"Om Bayu mau gak antar aku ke Dufan? Disana tempat kenanganku dan Tirta, aku ingin kesana sekali lagi untuk menghapus semua kenanganku dengan dia." kataku pelan.
Bayu tersenym, matanya terlihat sedih sesaat.
"Boleh, yuk pergi."

Sesampainya di Dufan, aku langsung menyeret tangan Bayu ke arah bianglala.
"Dulu aku dan Tirta pernah kesini, membolos sekolah. Dengan teman-teman yang lain juga, berenam. Saat itu Tirta menemaniku naik bianglala, padahal dia takut ketinggian. Tapi dia tetap naik bersamaku, demi aku." celotehku dengan mata menerawang.
Bayu hanya tersenyum. Kami lalu menaiki salah satu box bianglala.
Sesaat kami hanya terdiam, menikmati pemandangan malam itu dari atas bianglala, sungguh indah.
"Dulu disini Tirta pertama kali menyatakan perasaannya padaku, hahaha... aku senang sekali, rasanya hatiku mau meledak. Om tau perasaanku waktu itu? Rasanya aku tidak akan bisa lebih senang lagi. Lalu dia menciumku. Saat itu rasanya aku seperti gadis paling bahagia di seluruh dunia, aku berjanji dalam hati untuk akan selalu ada di sisinya selama-lamanya."
"Kamu sangat mencintainya ya?" tanya Bayu pelan.
"Ya, sampai sekarang pun masih begitu."
Kami terdiam lagi.
"Om, bolehkah aku duduk di sampingmu?" Bayu mengangguk.
Aku meloncat ke arah Bayu, dan seketika box bianglala itu bergoyang-goyang. Muka Bayu memucat, ia berpegangan erat ke besi pengaman.
"Om takut ketinggian?" tanyaku pelan, nyaris berbisik.
"Engga, mana mungkin..."
"Bohong." Bisikanku mampu menghentikan kalimatnya. "Dasar pembohong."
"Apa maksudmu...? Rei?"Ia tidak menyelesaikan kalimatnya saat melihatku.
Air mataku mengalir terus tanpa bisa kutahan.
"Dasar bodoh, kamu tidak perlu berbohong lagi sekarang..." Suaraku tak lebih dari sebuah bisikan disertai isakan.
"Rei...? Kamu...?" Ia tampak bingung, aku hilang kesabaran. Ku renggut kepalanya dan mendekatkannya ke arahku, lalu dalam dan penuh perasaan, kucium bibirnya.
Ciuman kami terasa menyesakan, disertai air mataku.
Saat ku lepaskan, aku tersenyum dengan air mataku dan Ia terperangah.
"Kamu tidak perlu berbohong lagi,, Tirta, berapa umurku sekarang?"
Kini bukan hanya mataku yang dibanjiri air mata, mata Tirta pun sudah digenangi air mata.
"Terimakasih, Tirta, untuk selama 17 tahun tetap di sisiku... Selalu, selalu disisiku..."
Aku memeluknya erat.
Tirta mengecup keningku lama, penuh perasaan.
"I love you, Kireina..."
***

Namaku Kireina, umurku 33 tahun.
Kecelakaan itu bukan hanya merenggut hidupku, tapi juga hidup Tirta, selama hampir 17 tahun.
Aku bukan terbaring koma selama satu bulan, melainkan 17 tahun.
Selama itu, orangtuaku dan Tirta bekerja keras demi kesembuhanku.
Ayah dan Ibu telah meninggal 4 tahun yang lalu karena mereka hidup tanpa semangat hidup, anak gadis mereka semata wayang tak kunjung sadar dari tidur panjangnya.
Tapi Tirta bertahan, tak punya keinginan lain selain melihatku bangun.
Ia tetap ada di sisiku, mengorbankan masa depannya sendiri.
Janji itu, tak pernah terkhianati.

***

Jumat, 26 November 2010

I MISS YOU

It is so hard to miss someone so much, and you can't do anything about it.
Because having that space between the two of you, is the only way to make things right... :')

Well, to be honest: I've missed him for a long looooooong time, but it takes much time for me to admit it (even to myself)
Its not something sweet like when you say "i miss you honey :-*" to your boyfriend,
It is something painful and totally sucks. It is a sin.
He is somebody else's lover, and I AM also someone's lover.
I am a lover of my beloved boyfriend (yeah i love him -my boyfr, i mean-, seriously)
But sometimes you have to stop pretend that your heart is a tight place which is can only contain one person in it, right?

And i had realize,
Love never really goes away,
It just changes into another form of it

There is many form of love, right?

And whenever he is, whatever he does,
I just hope, he always happy, laugh, smile
Because i was letting him go for good,
To make him happy :)

I hate to see the one I love happy with somebody else
But I surely hate it more to see the one I love unhappy with me... 

Selasa, 23 November 2010

lyrics

"LOVE CAN MAKES YOU FEEL SO FUNNY,
NO CAR NO HOUSE NOT EVEN MONEY WILL MAKES ME FEEL THE WAY
WHAT I'M REALLY TRYING TO SAY
I CAN'T LIVE ANOTHER DAY, WITHOUT YOUUUUUUUU :)"

Selasa, 09 November 2010

think the opposite

Pernah suatu hari, gue ngeliat salah satu temen sekelas gue membaca sebuah buku self help gitu. Sekilas judul buku itu kebaca sama gue; Whatever you think, think the opposite. Dengan hanya melihat sekilas judulnya saja, gue udah bisa nangkep seperti apa isi dan kira-kira makna nya.
Gue lalu minta izin ke temen gue itu untuk minjem bentar bukunya, gue baca sinopsis di belakang bukunya dan bener kan, apa isinya tuh sesuai kaya apa yg gue perkirakan.
Kalian yg baca posting gue ini, bisa nebak ga sih seperti apa kira-kira isi buku itu?
Ya, maksudnya mah kira-kira: "Kalau mau ngapa-ngapain pikir dulu gimana kalau kita yg digituin"
Dan hanya dengan baca 6 kata sederhana itu, "Whatever you think, think the opposite", langsung banyak hal-hal dan pemikiran-pemikiran yang berhamburan di otak gue.
Akan lebih baiknya kehidupan gue seandainya dari dulu gue udah nerapin 6 kata sederhana itu.
Ke orang tua gue, ke sodara-sodara gue, ke temen-temen, sahabat, pacar, dosen, office boy di kampus, satpam, pembantu, ke semuaaaaaa orang.
Maksudnya disini bukan hanya kalau gue mau ngelakuin sesuatu yg negatif lalu mikir "gimana kalau gue yg digituin?"
Tapi juga coba pikir "kalau gue diginiin sama orang pasti seneng deh" atau "kalau dia bilang gini sama gue gue pasti seneng bgt, gue juga mau ngomong gitu sama dia ah biar dia seneng"
Ngerti ga? Ketangkep ga sih maksud gue?
6 kata ajaib itu menyadarkan gue akan betapa mudahnya sebenarnya menyenangkan dan menghargai orang-orang di sekitar kita.
Percaya atau ngga, semenjak baca 6 kata itu sampai sekarang, gue selalu nerapin maknanya di setiap bagian kehidupan gue.
And it really works!

Kamis, 04 November 2010

Doa-Doa Kecil

Suatu malam, dia menanyakan sebuah pertanyaan yg membuat air mata gue turun:

"Gimana kalau misalnya aku adalah malaikat yang dikirim Tuhan turun cuma untuk nyembuhin kamu, dan harus pergi dari sini setelah kamu bener2x sembuh?"

Saat itu, serasa ada beban jutaan ton yang ditimpakan ke dada gue, gue mendadak nyesek dan susah nafas.
Mata gue mendadak perih, hati gue mendadak sakit.
Gue nangis.
(Ya gue tau emang lebaaaaay, tapi itulah faktanya)
Satu faktanya: gue terlalu takut kehilangan dia.

Dan di setiap kali pertemuannya, gue selalu menyelipkan sebuah doa tulus di dalam hati:
"Tuhan, biarkan aku bersamanya, tuliskan takdir-Mu agar dia menjadi milikku selamanya"

Dan setiap kali dia tersenyum, dalam hati gue berbisik:
"Tuhan, tolong jangan hapus senyuman tulus untukku itu dari wajahnya"

Dan setiap kali dia pamit, selalu aku berharap:
"Tuhan, izinkan kami bersama lagi esok hari"

Dan setiap malam sebelum tidur, ingin rasanya gue bilang sama dia:
"Stay by my side"

Dan setiap kali dia datang, selalu gue bersyukur:
"Terimakasih Tuhan, pagi ini dia masih bersamaku"

Ya gue sampe segitunya. Kadang gue juga suka aneh sendiri dan bertanya-tanya kenapa gue bisa sesayang ini sama dia? Ajaib, tapi alhamdulillah deng.

Gue bahkan ga sanggup ngebayangin bakal gimana rasanya, bakal gimana gue seandainya ntar itu memang terjadi. Sering gue ngebayangin bakal gimana jadinya gue tanpa gue, sering bgt malah. Tapi jauh di lubuk hati gue, gue tau, seburuk apapun keadaan gue di bayangan gue itu, di kenyataannya ntar bakal jauh lebih buruk lagi.

He is my angel, that's true.
He taught me how to giving meaning to life
He made it easier when life gets hard.
He is my savior
He saved me when i don't even know what the meaning of happy and love

He was right, he is an angel God sent me.
Always do and always will.

Yang gue takutin cuma satu
Gue takut cuma karena rasa takut gue ini, gue malah bikin dia jadi ga nyaman
Gue gamau bener2x gamau kehilangan dia, Di :(

Jumat, 29 Oktober 2010

YOU

I love that you know me
I love that i able to know you
I love your facial expressions
I love the way you say my name
I love the way you whisper "I love you"
I love the way you want tell me things
I love your laugh
I love your smile
I love that we have the same sense of humor
I love that we're on the same wavelength
I love your friendly flirting
I love our conversation
I love that you care, even if it's not the kind of care that i want
I love that you are never awkward around me
I love how you smell and how it lingers on my clothes
I love your hugs and how they're feels warm and safe
I love that our hand fit together perfectly
I love that you are concerned about me
I love how you trust me
I love how you can be my best friend sometimes
I love that i can trust you and how you keep my faith
I love the way i think that i wont be able to live without you
I...
I just love you :)

Sabtu, 16 Oktober 2010

42 things a girl wishes their boyfriend knew

1. when you break her heart, the pain never really goes away
2. when she misses you, she's hurting inside
3. when she says it's over, she still wants you to be hers
4. when she walks away from you madly, it means she wants you to follow her
5. when she stares at your mouth, it means she wants you to kiss her
6. when she pushes or hits you, grab her tight and don't let her go.
7. when she stars cursing at you, kiss her and tell her you love her
8. when she ignores you, give her your attention
9. when she pulls away, pull her back.
10. when you see her at her worst, tell her she's beautiful
11. when you see her crying, just hold her and don't say a word.
12. when you see her walking, sneak up and hug her waist from behind
13. when she's scared, protect her.
14. when she lays her head on your shoulder, tilt her head up and kiss her
15. when she steals your favourite jacket, let her keep it and sleep with it for a night.
16. when she teases you, tease her back and make her laugh
17. when she doesn't answer for a long time, reassure her that everything is okay.
18. when she looks at you with doubt, back yourself up with the truth.
19. when she says that she likes you, she really does more than you could understand.
20. when she grabs your hands, hold hers and play with her fingers
21. when she bumbs into you, bumb into her back and make her laugh
22. when she tells you a secret, keep it safe and untold.
23. when she looks at you in your eyes, don't look away until she does.
24. stay on the phone with her even if she's not saying anything
25. don't let her have the last word.
26. don't call her hot, but gorgeous or beautiful is so much better
27. say you love her more that she could ever love you
28. argue that she is the best girl ever
29. when she's mad, hug her tight and don't let go
30. when she says she's okay, don't believe it, talk to her about it, because 10 years later she'll remember it
31. call her at 12:00 am on special occasions to tell her you love her
32. call her before you sleep and after you wake up
33. treat her like she's all that matters to you
34. don't ignore her when she's out with you and your friends
35. stay up all night with her when she's sick
36. watch her favourite movie with her or her favourite show even if you think it's stupid
37. let her into your world
38. when she's bored and sad, hang out with her
39. let her know she's important
40. kiss her in the pouring rain
41. when she runs up at you crying, the first thing you say is "who's ass am i kicking today baby?"
And the last:
42. after she writes this, she hopes one day you'd read it, and remember every single word wrote on it.

Sahabat :')

"Bestfriend is a gift that you give to yourself"

Pernah dengar quote itu?
Aku pernah, dan kurasa quote itu benar sekali.
Sahabat adalah hadiah yang kita berikan pada diri kita sendiri.

Diary,
Mari ku perkenalkan kau pada sahabat-sahabat terbaik yang pernah kumiliki
Yang membuatku merasa begitu beruntung untuk memiliki mereka sebagai sahabatku
Sebagai hadiahku

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pernah suatu hari dalam hidupku, aku dipertemukan oleh 4 insan yang kini menjadi bagian terpenting dalam hidupku

Kami bertemu di tempat yang indah dan di masa paling indah,
SMA

Yang pertema ku kenal adalah Aziza Andini Putri
Di hari MOS yang ketiga, aku yang belum mempunyai teman dekat ingin sekali jajan ke kantin
Lalu aku melihatnya, dengan rambut keritingnya yang khas, tengah berjalan ke arah kantin dengan teman SMP nya, Stevie.
Akupun mengikuti mereka, nimbrung. Ya, begitu tidak tau malu nya aku :p
Kami semakin dekat ketika mengikuti OSIS bersama
Dia adalah sahabat yang baik (Well, semua sahabat itu baik. Tapi, dia benar-benar baik sekali)
Dia baik sekali untuk segala definisi dari kata baik
Dia adalah figur yg sabar, selalu menjadi penengah jika ada masalah di antara kami
Dia selalu dewasa, menyikapi semua hal dengan sudut pandang yang tidak biasa
Dia selalu kuat, dia tidak pernah menangis
Dia pemaaf, selalu tersenyum, bahkan saat akupun sadar bahwa aku telah membuatnya kesal
Dia pendengar yang baik, dia selalu ada saat aku membutuhkan seseorang
Untuk menceritakan kebahagiaanku karena hal apapun
Untuk menumpahkan kekesalan, kesedihan, kemarahan
Bahkan untuk sekedar mendengarkan cerita-cerita konyolku
Kadang aku berpikir, apakah dia pernah merasa bosan mendengarkanku berceloteh?
Dia yang paling sholehah diantara kita, tidak pernah meninggalkan shalatnya
Dia yang selalu mengingatkan kami untuk shalat, dimanapun kami sedang berada saat itu
Dia tidak pernah disentuh lelaki (Well, tau maksudnya kan)
Sementara kami sahabat-sahabatnya, kami hanyalah gadis-gadis sewajarnya gadis jaman ini
Tapi dia, tidak pernah tergoda untuk menjadi seperti kami
Dan walaupun begitu, dia tidak pernah memandang kami rendah karena kesalahan kami itu
Karena dia mengerti
Diary, kemarin dia berulangtahun, yg ke-18
Tapi, karena banyak alasan yang tidak mungkin dihindari, kami tidak bisa merayakan ulangtahunnya kemarin
Aku sungguh amat sangat sedih untuk itu
Dia penting bagi kami, tapi kami bahkan tidak bisa meluangkan waktu untuk ulangtahunnya :((((
Itu karena kami berempat mempunyai kesibukan yang berbeda-beda
Disini, aku ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya
Dan aku sungguh ingin dia tau:
Bahwa ia adalah sahabat terbaik yang pernah kami miliki :')
Diary, aku sangat menyayanginya.

Yang ku kenal selanjutnya adalah Chyntia Vamella Gania Putri
Aku mengenalnya dari OSIS
Dia adalah seorang yang aktif, temannya banyak sekali
Dia tidak berhenti berbicara, dia selalu tertawa
Banyak yang bilang sifatnya dan sifatku nyaris sama
Ya, akupun menyadari dan mengakui,
Banyak sekali sifatnya yang kadang mengingatkanku pada diriku sendiri
Mungkin karena itulah aku selalu merasa cocok dengan dirinya
Aku yang menciptakan nama "gerpil" untuknya
Dan sekarang hampir semua orang memanggilnya "gerpil"
Dan aku begitu bangga akan kenyataan itu :p
Dan ada satu fakta yang aneh namun nyata tentangnya dan aku
Dia adalah orang yang pertama kali memperkenalkanku pada 3 hal yang sekarang menjadi hal yang paling aku sukai, gehu pedas, bajigur, pacarku
Dia menarik, banyak orang suka padanya
Dia orang yang pandai membuat orang lain bahagia
Dengan dia, aku bisa tertawa sampai tak terkontrol, walau kadang hanya lewat chatting online saja
Dia selalu membuatku tertawa, apapun keadaanku, apapun keadaannya
Disaat aku sedih, dia sedemikian rupa menghiburku
Kemarin disaat aku jatuh, hanya dia yang ada, menghiburku
Sepulang kuliah, dia langsung ke rumahku, demi aku
Walaupun dia hanya ada untuk berbicara padaku, melontarkan lelucon-lelucon konyol untuk membuatku sekedar tersenyum, but it's really very very helping :)
Disaat dia sedihpun, dia tetap bisa membuatku tertawa
Dia kuat, dia orang yang tidak pernah mau terlihat sedih di mata orang lain
Disaat aku begitu sedih untuk keadaanya, dia selalu bersikeras bahwa dia tidak apa-apa
Dia selalu "baik-baik saja", walaupun aku tau dia tidak baik-baik saja
Pernah beberapa kali aku berselisih paham dengannya dalam masalah pekerjaan
Tapi setelahnya kami akan merasa dua kali lipat lebih dekat dari sebelumnya :')
Diary, kadang aku merasa bersalah padanya
Aku membawanya pada seseorang yang kemudian menyakitinya sedemikian rupa
Orang yang dia sayangi, aku sayangi, tapi orang itu menyakitinya
Setiap kali aku mengutarakan rasa bersalahku dan meminta maaf padanya, dia selalu berkata "tidak apa apa"
Padahal aku tau pasti, dia tidak "tidak apa-apa"
Disini aku ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya padanya
Untuk telah membawa kesakitan dalam hidupnya
Diary, sulit untukku menjelaskan betapa aku menyayanginya

Dahlya Nurul Mawaddah Santosa, ku kenal dia berbarengan dengan aku mengenal gerpil
Dari OSIS.
Dia adalah orang yang polos, kepolosannya begitu mengasyikan untuk menjadi bahan lelucon kami :p
Dia orang yang sensitif, yang penuh kasih
Dia begitu mudah jatuh cinta
Banyak nama lelaki yang kami dengar dari mulutnya, tapi dia bukan playgirl loh
Pernah kami bertengkar hebat
Berminggu-minggu kami tidak bertegur sapa
Klise, hanya masalah lelaki
Disini juga aku ingin meminta maaf padanya
Untuk telah begitu kekanakkan dengan tidak memaafkannya saat itu
Dan diary, sejujurnya, aku menyayanginya

Yang terakhir ku kenal adalah Andina Dwi Septianti
Aku mengenalnya dari OSIS juga, hanya saja dia baru mengikuti OSIS di kelas 2
Entah kenapa aku selalu melihatnya sebagai figur yang elegan,
Walaupun aku terlalu gengsi untuk mengatakan padanya langsung :p
Dia cerdas, dia bisa mempertahankan nilai-nilainya tetap stabil walaupun sibuk
Dia adalah seorang wanita sejati
Dia berbicara dengan santun, layaknya seorang ayu
Berbeda jauh denganku yang cablak
Mamaku pernah berkata "Jadi cewe tuh kaya Andina, lemah lebut, jgn krasak krusuk aja, mana ada cowo yang suka"
Mudah baginya membuat lelaki jatuh cinta padanya
Dia pandai mengendalikan emosi,
Sekesal-kesalnya dia, dia tidak pernah menumpahkan emosi sepenuhnya sepertiku
Dia pintar, dia selalu bisa mengutarakan kemauannya tanpa terlihat manja
Dia pandai mengutarakan maksudnya, tanpa pernah membuat orang lain tersinggung
Caranya yang khas, pola pikirnya, kemampuan mengendalikan emosinya,
Kadang membuatku iri
Dia kuat, dia mampu bertahan setelah berkali-kali ditinggalkan orang yang dicintainya
Dia yang terakhir kukenal, tapi justru dia lah yang paling dekat denganku selama masa jabatan OSIS
Aku ingat, aku pertama kali mengenalnya saat ngamen untuk acara Attack.
Aku tidak tau akan pulang dengan siapa, sementara itu sudah malam sekali
Lalu iza bilang; "Itu Andina rumahnya di ciwastra juga"
Saat itu rasanya aku sangat tenang sekali, seperti menemukan malaikat
Dan sejak saat itu kami selalu bersama layaknya anak kembar
Ditambah lagi kami bekerja di satu seksi bidang yang sama, kami membuat majalah sekolah berdua
Selalu berdua, dari pagi sampai malam
Perjuangan, menghadang hujan, panas, macet, dengan motor
Berkeliling Bandung, dengan motor
Menangis bersama, untuk masalah pekerjaan, masalah cinta
Jalan pikiran kami juga nyaris sama, pendapatku nyaris selalu sama dengan pendapatnya
Diary, pernah suatu saat aku merasa kesal pada dirinya
Suatu masalah pekerjaan, saat kami bersiteru dengan sahabat kami yang lain
Dan aku merasa kesal, karena dia tidak sepertiku, karena dia pemaaf
Aku merasa terkhianati, setelah sekian lama kami begitu dekat berdua bersama
Dan sekarang aku merasa begitu bersalah
Untuk begitu kekanakan dengan berpikiran sempit seperti itu
Aku belajar menjadi seorang pemaaf darinya
Disini, aku ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya untuk kesalahanku dulu
Diary, aku mengaguminya, selalu. Dan aku menyayanginya

Diary, aku ingin menjadi sahabat mereka selamanya
Walaupun kini kami tidak lagi berada di satu lingkungan yang sama
Aku ingin kami bersahabat hingga kami tua nanti
Hingga saat kami sudah berhasil menggapai cita-cita kami di masa putih abu dulu
Hingga saat nanti kami bisa merasa bangga akan satu sama lain
Hingga suatu saat nanti kami menjadi orang-orang sukses, bahagia
Dengan suami dan anak-anak yang kami cintai
Seperti yang selalu kami impikan


Dahlya - Izza - Bella - Andina - Chyntia 
 

Dahlya - Andina - Izza - Bella - Chyntia

Jika kalian sempat membaca note ini,
Kuharap kalian mengerti, aku ingin kalian tau;
Kalianlah sahabat-sahabat terbaik yang pernah kumiliki :')

Jumat, 15 Oktober 2010

another love song

This song is for you... you better listen...
 
tak pernah kuduga
semuanya berubah
saat kau memandangku
bergetar hati ini
kau berikan harapan tentang
warna warni hariku

semenjak ada dirimu
dunia terasa indahnya
semenjak kau ada disini
kumampu melupakannya


kini aku tak sabar
ingin hati kau untukku
nyatakanlah kepadaku
janji indah yang kutunggu


semua kini telah bersinar lagi
takkan kuingat dia
semenjak ada dirimu
dunia terasa indahnya
semenjak kau ada disini
kumampu melupakannya

semenjak ada dirimu
semua terasa indahnya
semenjak kau ada disini
tak ingin melepaskanmu


(nah kalau ini adalah lagu yang paling sering gue denger dulu2x, sebelum kami jadian gitu deh di. aduh sorry ya di daritadi ngepost lirik geje hehehehe :D)

baby i do love you

Baby I love you and I'll never let you go
But if I have to boy I think that you should know
All the love we make can never be erased
And I promise you that you will never be replaced

I love you, yes I do
I'll be with you as long as you want me to
Until the end of time

From the day I met you I knew we'd be together
And now I know I wanna be with you forever
I wanna marry you and I wanna have your kids
Thinking never compared to be without your kisses

I can say I'm truly happy to this day
You made me thank god that I live my life everyday
There's never been a doubt in my mind
That I regret ever having you by my side

But if the day comes that I have to let you go
I think there's somthin' I should probably let you know
Enjoy everyday that I spent with you
And I will miss you but I'm happy that I had you at all

Baby I love you and I'll never let you go
But if I have to boy I think that you should know
All the love we made can never be erased
And I promise you that you will never be replaced

I love you ohh yes I do
I'll be with you as long as you want me to
Until the end of time

(mendadak mellow dan jadi suka bgt lagu imut ini HAHAHA, am i  fall in love this much so almost all songs in my playlist is love songs now? ckck)

my phobia

inspired by:  seekor binatang menjijikan di langit2x rumah, yg sedari tadi mengganggu ketenangan gue dengan bunyi "ckckck" nya

semua orang punya suatu hal yg ditakuti kan?
gue punya.
mungkin orang2x terdekat gue tau, gue takut cicak.
hiii gue benci bgt binatang melata yg satu itu, bahkan barusan saat mengetikan 5 huruf itu, gue sedikit bergidik dan bulu kuduk gue sedikit berdiri.
gue tau ini lebay ya, but thats the fact.
kalau ada itu di atas gue, gue suka sampe bela2xin pindah tempat duduk, apapun yg sedang gue lakukan saat itu
gue takut setakut-takutnya sama itu, sampe sampe gue bukan cuma takut sama itu aslinya
sama segala sesuatu berbentuk itu pun gue benci
entah itu boneka, gantungan kunci, foto, apapun
bahkan sama permenpun gue takut
tau permen yuppi yg ceritanya mah bentuk buaya ga di?
tah itu mirip itu kan di ya?
pernah pas smp, sobat gue si rara ngedeketin permen yupi itu ke gue, becanda gitu
dia kira gue ga takut kali ya sama permennya mah
saking shocknya gue, gue secara refleks lgsg mundur mundur mundur
sampe akhirnya gue jatoh dari kursi rotan yg lumayan tinggi, dan bagai sudah jatuih tertimpa tangga, gue pun tertimpa kursi rotan
memarnya gede bgt tuh di bagia atas paha gue, sakiiit bgt
sakitnya sampe berhari-hari lah
cuma karena sebuah permen
sialan ga sih? zzz

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

sedikit flashback ke sekitar 10-taun-atau-bahkan-lebih-yang-lalu

taukah kalian apa yg membuat ggue begitu takut sama itu?
huaaaaaaa :((
jd sedih kalau diinget2x
jadi gini, dulu saat adik gue yg sekarang duah kelas 1 sma masih sekitar 5 taunan
dan gue yg masih h sekitar 7 taunan, adik gue suka bgt sama itu
dan saat itu, gue masih biasa aja, belum terlalu takut sama itu
ya takut sih, tapi takut selayaknya orang biasa aja
(tauga sih kalau anak kecil mau tidur suka ada kebiasaannya dulu yg biasanya tiap anak beda2x? kaya misalnya megang kuping ibunya, ngisep jempol, dsb dsb)
nah adik gue ini kebiasaannya adalah ngambil itu dari dinding, dimasukin plastik bening, lalu dipegang2x sampe leyek dan mati (yaaa memang kejam yaaaa -,-)
dan adik gue yg memang jail, lalu suka nakut2xin gue pake itu
gue dikejar2x sampe naek turun meja, sampe nangis ga kekontrol
sumpah ya di, ini bukan lebay, tapi saat itu gue bener2x takuuuuuuuuut bgt
takut bgt, gue kayanya ngerti bgt deh gmn perasaan tokoh2x dalam film jurassic park saat dikejar2x t-rex
(almost like that lah)
itulah awalnya gue jd takut bgt sama itu di :(
gue takuuuuut bgt
sampe skrg aja ini ngetik ga konsen gini karena ada itu di langit2x rumah gue
walaupun ga tepat di atas gue bgt sih
tadi beberapa jam yg lalu sempet ada tepat di atas gue loh,
gue kan ol pake pc ya, jd pc kan ga bisa dipindah2xin
jd gue diem dulu di pojok kasur, duduk manis disana nunggu sampe si itu pergi dari spot yg tepat di atas pc gue tersebut
sejamlah gue duduk cuma buat nungguin tu binatang sialan melangkah pergi
dan setalah dia melangkah pergi, langkahnya pelan sekali
layaknya putri solo, seandainya gue ga takut nyentuhnya udah gue bunuh deh tu binatang saking keselnya
sampe akhirnya itu udah rada jauh dari atas pc gue, baru deh gue berani duduk lagi


diary, phobia ini kadang ganggu bgt :(
gimana cara ngilanginnya ya? ada yg tau ga?

Rabu, 13 Oktober 2010

greatest hello and hardest goodbye :')

The greatest

Yes, you are the greatest hello
Great to know you
Great to spend my days with you
Great to love you more day by day
My world began so great when you were here

The hardest

Yes, you are the hardest good bye
I would never want to say "bye"
I don't even know
Am I ready enough to see your back, when you start to leave
?
Am I strong enough to let you go, someday?

Yeah, you're my greatest hello and also my hardest goodbye...

I had realize, this life is a story
And a story always has a beginning and... an ending
If you dare enough to face the beginning,
You have to dare also to face the ending
And so does a love

Hemm ending disini bukan maksudnya pisah karena suatu hal duniawi aja
Seperti yang selalu kamu bilang kan, suatu hari kita bakal dipisahkan ruang dan waktunya oleh maut. Tanpa pernah kita tau kapan waktunya
Tiba-tiba aku jadi mellow aja nih, setelah nulis note yang dibawah tadi

Dan kalau kamu cukup peka,
Setelah baca 2 notes ini,
Kamu seharusnya akan mengerti,
Betapa enggannya aku untuk kehilangan kamu.

(Eh tapi by the way, kenapa makin sini bahasa gue makin creepy ajaaaa? Oh God -,-)

100% for him

Banyak orang bilang gue adalah tipe orang yang ribet, terlalu banyak mikir sebelum bertindak. Well, mungkin terlihat seperti itu ya, tapi sekarang mau gue tegasin nih disini:
Gue bukannya ribet, tapi jalan pikiran gue emang sangat detail dan menyeluruh.
Gue ngeliat suatu hal itu dari berbagai aspek, dipikir dulu baik-baik, baru setelah itu memutuskan sikap mana yang terbaik untuk diambil. Tapi gue jamin nih ya PASTI, jalan yang gue ambil setalah dipikir mateng-mateng itu adalah BENAR ADANYA. See? Beda kan sama ribet, ribet tuh muter-muter ga jelas, ga ada ujung, ga ada hasil, dan ga ada kebenarannya.

Diary, gue mau jujur nih sama lu (ya iyalah namanya juga curhat sama diary masa ga jujur).
Ada satu hal yang lagi gue pikirin sekarang, dan itu sedikit membuat gue gusar. Ga sampe galau gimana gitu ya, cuma ya itu tadi, gue gusar dan agak takut.

Jadi gini, di,
Dulu,
Saat gue dan pacar gue yg sekarang baru jalan sebentar, belum sampe satu bulan,
Gue pernah punya prinsip:

"Rasa sayang gue ke dia harus tetep di bawah rasa sayang dia ke gue"

Well yeah, gue tau prinsip itu jahat dan picik bgt, yes i know and i had realize :(
Dan kadang gue ngerasa jahaaaaaaaaat bgt kalau nginget dulu gue pernah punya pikiran kaya gitu, sediiiiih :'(
Gue dulu kaya gitu karena belajar dari pengalaman yg sebelumnya, jgn pernah sayang sama cowo sampai ngelebihin rasa sayang cowo itu ke kita, karena rasanya bakal sakiiiiiit bgt diujungnya. Jadi di awal hubungan kami, gue selalu nekenin ke diri sendiri,

"Ini cuma sementara Bel, ini ga akan selamanya,"
"Dont fall too deep, Bella, belajar atur perasaan."

Kenapa gue sampe kaya gitu sama pacar sendiri? Karena gue ga mau sakit hati lagi, karena gue gamau nangis lagi, dan karena dia terlalu baik, hubungan kita terlalu indah untuk dinodai sama air mata dan rasa sakit (ebuseeeeet bahasa gue creepy sekali). Dan karena ada seorang sahabat yang sangat gue percaya pernah ngasihtau ke gue;

"Jangan pernah berharap suatu hubungan itu akan selamanya. Percaya deh, semua cowo itu brengsek, kecuali kalau lu mau pacaran sama seorang gay. Biasain dari awal, tanamkan di hati dan otak lu, bahwa kalian suatu saat bakal putus, berpisah, ended, separated."

Dan karena gue percaya disama sahabat gue itu, mulai dari saat itu gue mulai menanamkan dalam diri gue, bahwa suatu saat dia bakal ninggalin gue, jadi gue ga boleh jatuh terlalu dalem ke dalam pesonanya (ebuseeeeeeeeet makin menjijikan aja nih bahasa gue anjir wakakaka). Biar disaat kita berpisah nanti, gue ga perlu sedih apalagi sampe nangis, biarinlah dia aja yg sedih (yayayaya gue jahat gue tau gue licik dan picik, maaf di maaf. sekarang gue ga gitu lagi ko sumpah sumpah deh).

Tapi entah karna gue menyadari bahwa dia baik sekali, atau memang takdir Tuhan berkata bahwa gue harus mencintai dia sepenuhnya, akhirnya prinsip gue itu hancur berantakan, bener-bener hancur. Karena sekarang gue yakin, rasa sayang gue ke dia udah jauh bgt lebih besar dibanding rasa sayang dia ke gue. Jauh, jauh sekali.

Yes i'm sure that i do, i do love him.

And there's another fact; i've cried for him.
Bukankah ada seorang bijak yang bilang, "Suatu perasaan baru bisa dinamakan cinta, jika kamu telah menangis untuknya, untuk alasan apapun". Well, gue percaya quote itu. (So, i was already fall in love with him, right?)

Gue ga tau tepatnya sejak kapan gue mulai ngerasa begitu sayang sama dia, gue ga pernah tau kapan awalnya. Kenapa? Karena gue selalu ngerasa makin sayang dan makin sayang sama dia setiap harinya.

Awalnya, saat menyadari bahwa prinsip itu udah hancur dan misi gue untuk ga lagi sakit hati itu gagal total, gue frustasi, gue galau segalau-galaunya. Karena bagi gue, prinsip itu penting dan gue adalah orang yg konsisten sehingga aneh bgt masa aja sih seorang Bella memungkiri prinsipnya sendiri? Gengsi dong (padahal mun dipikir-pikir mah gengsi ka sahaaaa deui nya).

Tapi mau gimana lagi? Kenyataan berkata lain (ya Tuhan, kayanya sekarang lu lebih cocok jd pengarang skenario sinetron RCTI deh Bel, bahasa lu udah creepy tingkat dewi cinta). Sekarang gue bener-bener sayang dia, dan gue bersyukur atas itu :)

Sekarang gue udah sadar, gue bukan cuma akan sakit hati dan nangis kalau kehilangan dia, kalau dia ninggalin gue, gue bakal hancur. Ya gue tau kedengerannya lebay, but thats the fact, i will be nothing without him.

Sekarang gue ga lagi nanemin di hati dan otak gue bahwa kami suatu saat bakal pisah, gue justru nanemin bahwa dia akan jadi masa depan gue, selamanya sama gue. Dan gue bakal berusaha dan bertahan apapun keadaannya untuk tetep sama dia.

Gue bahagiaaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget sama dia, ya gue bahagia. Ternyata bener apa kata orang, hidup itu ada sedihnya ada senengnya, dan alhamdulillah sekarang gue seneng.

Pernah ada seorang temen nasehatin gue (apa muka gue bisa bilang "hey, i'm falling in love" ya sampe-sampe bnyk bgt orang yg nasehatin gue gini?) agar gue jangan percaya sama cowo sampe 100%, karena nantinya saat dikhianati, akan sakit 100% pula. Quote ini ngingetin gue sama prinsip gue dulu agak agak mirip kan ya? Hemm, secara logika bener juga kan ya? I'm not sure whether my faith for him is already 100% or not yet. Gue belum yakin bahwa kepercayaan gue ke dia udah 100%.

But i'm so sure that my feeling for him is definitely already 100%.

Dan kemaren kemaren, baru beberapa hari yang lalu,
A wise friend of mine ever said to me:

"Lu harus belajar kuat dari sekarang, Bel. Kenapa? Karena rasa sayangnya cowo itu tumbuh dari 100 ke 0, sementara rasa sayang cewe tumbuh dari 0 ke 100. Gue ga mau liat lu nanti nangis disaat rasa sayang dia ke lu udah 0, sementara lu ke dia 100."

Kata-kata itu begitu meresap di otak gue, menjalar ke pikiran gue, layaknya racun.

Jujur gue takut. Sangat takut.

Yaampun saking takutnya, mikirinnya aja gue sampe pengen nangis nih di :(
(Jangan, jangan! Dia ga suka lu nangis! Jangan jangan jangan nangis Bel, JANGAN!)

Is that a fact? Is that real? Is that true?
That quote, that scary quote. I get scared.

Sumpah rasanya gue pengen teriak, nanya sama semua cowo di dunia, dan menuntut mereka untuk jujur:

"HEY, BENER GA RASA SAYANG KALIAN SAMA KITA TUH TUMBUH DARI 100 KE 0???"

Gue harap ngga. Gue harap ga semua cowo kaya gitu. Gue harap dia ga gitu.

Tolong.

Tolong bilang, tolong bilang NGGAAAAAAAAAAAAAA :((((((((((

Gue ga siap kehilangan dia, dan ga akan pernah siap.
Dan seandainya quote itu bener, gue bener-bener takut nunggu saat rasa sayang dia ke gue udah sampe di 0 sementara gue ke dia udah 100.
Karena kapanpun itu, gue ga akan pernah siap.



Eummm, and hey Love, if you read this note, here are a thing i'd like you to know:

"I'm already give my heart 100% for you, so keep it safe until the end ok? Cause i know i can't even fix it once you break it."

Senin, 11 Oktober 2010

Hujan, Perjalanan, Kita :)

In fact, gue adalah orang yang ga begitu suka dengan fenomena alam yang namanya hujan. Kenapa?
Karena jika hujan turun, rutinitas yang telah diatur sedemikian rupa sebelumnya dalam sebuah planning bisa hancur berantakan. Well, gue bukannya ga bersyukur sama Tuhan yg telah menurunkan hujan ke bumi on a good purpose, tapiii hemm okelah hujan memang bermanfaat untuk alam, tapi kadang hujan bisa jd amat sangat mengesalkan.
Sering sekali gue mendapatkan janji yg telah ada dari lama gagal hanya karena hujan turun. Hemm padahal kan hujan cuma air ya? Ya ya ya, cuma air.
Sejak SD dulu, hujan telah menjadi suatu fenomena yg membawa kesialan dalam hidup gue. Gue bersekolah di sebuah SD Negeri di komplek perumahan dimana gue tinggal, sekolah kecil sih yang muridnya kebanyakan adalah warga sekitar situ situ juga. Nah, di komplek ini, ada seorang wanita tua kurang waras yang biasa dipanggil Iting (buat warga Pasirpogor dan sekitar Ciwastra pasti taulah biografi Si Iting ini, karena sudah eksis disini sejak lama dan sampe sekarang masih ada, dia sangat famous layaknya seorang kembang desa hahahaha). Si Iting ini adalah figur yang ditakuti orang-orang terutama anak-anak, karena dia agak (AGAK???) emosian, budek, dan suka ngamuk ga puguh deh pokoknya.
Nahloh nahloh kok jadi ngalor ngidul sih, jadi apa hubungannya Si Iting dengan hujan? Jelas ada hubungannya. Saat gue masih SD, jika hujan turun di jam-jam sekolah, Si Iting yang notabene nya ga punya rumah untuk berteduh biasanya masuk ke gedung sekolah lalu membuat keributan. Entah hanya berteriak-teriak dalam bahasa sunda, "Rek kamana sia anj***ng???" atau melempar-lemparkan batu ke dalam kelas. Ekstrim sekali bukan? Karena itulah kami, begitu benci jika hujan turun saat jam sekolah.
Setelah beranjak dewasa pun, gue masih tetap tidak menyukai hujan. Karena kalau hujan turun, rambut bisa jadi basah dan lepek, seragampun basah, sepatu basah (ini yang paling menyebalkan, karena kalau sepatu sekolah basah, besoknya gue harus memakai sepatu sekolah yg dulu, yg udah butut. ZZZ bgt kan -,-). Dan yang paling parah, jika janji main dengan teman jadi batal gara-gara hujan, well jujur gue sering sekali mengalami efek hujan yg terakhir ini.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tapiiii

Ehem ehem :">

Aduh percaya ga percaya ya, sekarang gue ngetik entri ini dengan muka memerah dan senyam-senyum sendiri.


Tapi, lalu ada seseorang di hidup gue yang membuat hujan jadi terasa sangat manis dan indah.

Orang itu ada di hidup gue, sebuah elemen paling penting dalam kehidupan gue sekarang.

Seringkali kami, ya gue dan dia, batal pergi karena hujan. Dan kami, juga sering menghadang hujan dalam perjalanan kami. Sering sekali, mungkin karena kebetulan kita kenal saat di Indonesia sedang musim hujan ya.

Sering sekali.

Tapi ada satu hari, dimana hujan terasa benar-benar manis, seperti air gula (ok gue tau ini lebay, maaf). Hari itu adalah salah satu hari di masa masa pengangguran yang begitu indah, selulus sma, sebelum kuliah.

Hari itu dia nganter gue ke kampus gue (well seharusnya saat itu sebutannya
calon kampus ya) untuk registrasi fisik jas almamater, seragam, dll.

Dari rumah gue di Ciwastra, ke kampus utama di daerah Geger Kalong (so far yaaa), kita berpetualang pake motor mio dia.

Hari itu hujan turun, deras.

Hari itu kita memakai satu jas hujan untuk berdua.

Hari itu gue manja, seperti biasanya.
Gue bilang, "Punggung aku ga ketutupan jas hujan, basaaaaaaaah"
Lalu tanpa berkata apa-apa, dia melengeluarkan tangannya dari jas hujan, agar jas hujannya sampai ke belakang, menutupi punggung gue.

Saat itu sebuah lagu jadul yang sering Mama dengerin di rumah tiba-tiba ada di kepala gue:


"...the touch of your hand says you'll catch me whenever i fall, you say it BEST, when you say nothing at all..."

Hari itu gue berdebar, ya ada sedikit getar di hati gue.
Walaupun gue masih terlalu bodoh untuk mengartikannya.

Hari itu tangan dan kakinya basah kuyup.
Sementara seluruh tubuh gue aman dan kering.

Padahal hari itu, tangannya luka
Karena hari sebelumnya, dia terjatuh
Di perlajalannya pulang setelah mengantarkan gue pulang ke rumah dengan selamat

Padahal hari itu lukanya masih basah
Tapi dia tetap mengiyakan ajakan gue untuk mengantar gue ke kampus yang jauhnya jauh sekali

Padahal hari itu
Dia bisa saja menolak, toh gue bukan siapa-siapanya

Padahal hari itu
Gue bisa saja minta tolong orang lain, toh ada orang yg sudah menawarkan diri juga

Tapi hari itu
Entah kenapa, gue merasa begitu ingin bersama dia

Dan hari itu
Entah kenapa dia tetap rela hujan-hujanan dengan tangannya yg luka,
Demi gue

Ya, say im an egoistic, yes i am.
Kadang gue benci sama keegoisan diri gue sendiri, kadang gue merasa bersalah

Pernah di suatu hari hujan yang lain,
Gue mengutarakan rasa bersalah gue tentang hari hujan itu kepadanya

Then he said, "Gpp ko sayaaang."
Sambil menggenggam erat tangan gue yang melingkar di pinggangnya, dengan tangannya yg basah kuyup. Sementara tangan gue, lagi lagi kering.

Hari itu, gue merasa menjadi orang yg berarti
Setelah begitu lama gue merasa ga ada harga nya
Berkat dia, gue merasa berharga

Hari itu, hanya salah satu dari banyak hari-hari hujan lain yg pernah gue lalui bersama dia
Salah satu yang termanis

Hari itu, adalah 29 Juni 2010

Hari itu, telah 105 hari berlalu
Dilalui dengan hari-hari indah yang lain

Tapi hari itu, akan selalu gue kenang

Semoga dia juga mengenang hari itu dengan senyum, sama seperti gue sekarang

Karena di hari itu, ada 3 elemen paling indah yang begitu pas dipadupadankan bersama:
Hujan, Perjalanan, Kita :)