Minggu, 28 November 2010

I Love You, Kireina

Namaku Kireina, umurku 16 tahun.
Hari itu di Dufan, kami -yang bersekolah di SMA yang jaraknya tidak jauh dari Ancol- membolos di hari jumat, karena terlambat datang dan malas dapat hukuman. Aku, Tiara, Cita, Aldo, Tirta, dan Kael.
Sinar mentari begitu cerah, menyilaukan pandangan kami, menyinari tawa dan keceriaan kami.
"Naik kicir-kicir yuuuuuk!" Tiara menarik Aldo, pacarnya, sambil melambai-lambaikan tangan ke arah kami, mengajak kami bergabung di antrian wahana kicir-kicir.
"Yaaaah jangan kicir-kicir dong, gue gak berani! Bianglala aja yuuuk?"
"Wuuuu payah nih, Rei. Ayo, dong ah, gak asik bangeeet," Kael menepuk bahuku.
Aku menggeleng kuat-kuat, meyakinkan mereka bahwa aku benar-benar takut.
"Kalian naik aja deh sana, gue tunggu disini, sekalian fotoin kalian. Gimana?" tawarku.
"Gue temenin lo naik bianglala deh, mau? Daripada bengong disini." celetuk Tirta sedikit mengagetkanku dengan tawaran itu. Berduaan saja dengan Tirta yang selama ini diam-diam ku kagumi? Waaah, ini sih ketiban durian runtuh namanya!
"Emang lo gak mau naik kicir-kicir bareng yang lain, Ta?" tanyaku lugu,
"Gak ah, gue mau naik bianglala aja sama lo," katanya sambil mengacak lebut rambut panjangku. Tak dapat dihindari hatiku berdesir dan mukaku langsung memerah.
Anak-anak yang lain tersenyum dan menatap kami penuh kecurigaan melihat tingkah Tirta yang tak biasa itu, lalu melambaikan tangan pada kami sebelum akhirnya pergi ke arah antrian wahana kicir-kicir.
Lalu aku dan Tirta berjalan bersama ke arah wahana bianglala, dengan jantungku tak henti yang berdegup kencang.

***

Berat...
Kepalaku berat sekali, rasanya seperti telah tidur lama dan sulit bangun lagi...
Membuka mata saja rasanya sulit sekali, apa aku sakit?
Ibu... Rasanya aku ingin berteriak memanggil Ibu, bukankah jika aku sakit Ibu biasanya selalu ada untukku?
Tapi kenapa tenggorokan ini rasanya begitu kering, hingga untuk mengucap satu kata "Ibu" pun rasanya sulit sekali?
Tunngu, bau ini... Wangi tubuhnya Tirta.
Ya... Mungkin Tirta yang sedang menungguiku. Sekarang setalah aku pikir-pikir, aku begitu merindukannya.
Sebenarnya sudah berapa lama aku terbaring seperti ini?
Aku memaksakan membuka mataku secara perlahan.
"Tirta..." suaraku terdengar lemah dan asing, bahkan di telingaku sendiri.
"Rei? Kamu udah sadar?" Suara itu terdengar agak kaget bercampur. Sebuah tangan yang besar dan agak kasar menyentuh pipiku, rasanya seperti tangan seorang lelaki dewasa. Seperti tangan Ayah.
Saat akhirnya aku bisa melihat sekelilingku dengan jelas, aku menyadari bahwa aku sedang berada di sebuah kamar rumah sakit yang hening dan putih. Dan lelaki paruh baya itu bukan seorang yang ku kenal.
"Siapa kamu?" Aku langsung siaga dan tercekat, tapi kepalaku langsung dilanda pusing yang amat sangat saat aku mencoba duduk.
Lelaki itu mencoba membaringkanku kembali, "Berbaringlah, kamu belum cukup kuat untuk duduk."
"Om siapa? Aku kenapa? Mana Ibu? Ayah? Tirta?" Rasanya masih ada begitu banyak pertanyaan di kepalaku, tapi aku terlalu lemas untuk menanyakannya satu persatu.
"Jangan panggil aku Om. Aku Bayu, saudara jauhmu. Kamu mendapat kecelakaan tertabrak mobil, kamu sudah koma selama satu bulan."
Hah dia bercanda, dari penampilannya, umurnya paling tidak 35 tahun, sementara aku 16 tahun. Tentu saja aku harus memanggilnya Om.
Kecelakaan? Aku sama sekali tidak dapat mengingatnya. Bukankah seharusnya kalau aku mendapat kecelakaan, aku dapat mengingat kejadiannya?
"Berhenti memandangiku dengan pandangan curiga seperti itu, aku bukan orang jahat, justru akulah satu-satunya orang yang kamu punya sekarang. Nah sekarang karena kamu sudah sadar, aku akan mengurus administrasi rumah sakit untuk lalu membawamu pulang. Tunggulah disini sebentar." Suaranya tegas dan tak terbantahkan, aku benci caranya bicara padaku seolah-olah aku harus menuruti perkataannya.
"Tunggu! Dimana orangtuaku? Kenapa kamu yang menungguiku disini?"
"Rei, kamu sudah terbaring tak sadarkan diri selama sebulan lebih, dalam kondisi seperti itu, dokter bilang kamu akan sulit membedakan mana kenyataan dan mana mimpi. Kamu sudah tinggal bersamaku semenjak kamu SD, tidak ada orangtua. Berhentilah bicara dan sebaiknya kamu istirahat." Lalu ia berjalan keluarkamar dengan agak gusar.
Aku terperangah. Apa katanya tadi?
"Lalu... Tirta? Om!" Tapi percuma, ia sudah berlalu dan suaraku yang lemah tak mungkin terdengar sampai keluar kamar.
Tubuhku yang sudah lemas rasanya semakin lemas hingga seperti tak bertulang. Mimpi katanya? Tak mungkin. Tak mungkin, maksudnya tadi aku yatim piatu? Aku bahkan masih dapat mengingat suara Ibu dan Ayah dengan jelas.
Tanpa terasa air mata ku mengalir, air mata kebingungan, frustasi.
Aku terbaring lemah dan menangis.
Dan kekasihku, Tirta... Apakah dia juga mimpi? Tidak mungkin!
Aku masih bisa mengingat dengan jelas suaranya, wajahnya, harum tubuhnya...
Aku bahkan masih bisa mengingat hari dimana dia menyatakan cinta.
Tirta, seandainya kamu ada disini...

***

"Tirta, lihat! Orang-orang terlihat seperti semut dari atas sini ya?" kataku ceria sambil menunjuk kerumunan orang di bawah dari kaca bianglala. Tirta hanya tersenyum sambil tetap duduk di tempatnya, di sebrang tempat dudukku. "Hey, kok diem aja sih?"
"Gak apa-apa, Rei."
"Lo... takut ketinggian ya?" tanyaku usil.
"Enak aja, ngga kok. Hahaha" Tawa Tirta terdengar dipaksakan.
"Hahahaha iya kan? Iya kan, Ta?"
"Engga!" katanya, mukanya memerah.
"Terus kenapa lo gak kamu ikut naik kicir-kicir bareng mereka? Lo takut kaaaan? Ngaku deh. Hihihi"
Tirta terdiam.
"Hahahaha gotcha! Gue juga takut kok sama kicir-kicir, Ta, tapi kalau bianglala gue ga takut. Kalau lo takut ketinggian ya? Makanya takut sama bianglala juga..."
"Rei," Panggilannya menghentikan celotehanku.
"Ya?" sahutku so cool.
"Gue gak ikut naik kicir-kicir karena pengen berduaan disini sama lo."
"Hah? Kenapa?" Jantungku mulai berdegup kencang tak keruan.
"Gue... Aku suka sama kamu, Kireina. Dari lama, sayang sama kamu." Matanya menatapku lurus, tajam saat mengatakan kata-kata indah itu, tanpa sedikitpun keraguan. Dan tanpa dapat dihindari, mukaku langsung memerah. "Aku mau jadi pacar kamu, Rei. Boleh?"
Aku mengannguk pelan, seyum simpul menghiasi wajahku.
Lalu aku berdiri untuk pindah ke tempat duduk di sebelahnya. Dengan seketika box bianglala itu bergoyang, Tirta langsung pucat dan berpegangan pada besi pintunya, erat sekali. Aku tertawa.
"Tuhkaaaaan, kamu memang takut ketinggian, ya? Hahahaha"
Tirta ikut tertawa sambil mengangguk, lalu memeluk pinggangku dan merapatkanku ke tubuhnya.
Bisikannya tidak hanya mampu menghentikan tawaku, tapi juga melelehkanku.
"I love you, Kireina."

***

"I love you, Kireina."
Suara itu rasanya masih jelas terngiang-ngiang di kepalaku.
Benarkah itu semua hanya mimpi?
Pintu kamar terbuka, Bayu masuk bersama seorang suster yang akan melepas suntikan infus di tangan kiriku.
"Mungkin akan terasa agak sakit, ditahan sedikit ya, Nona Kireina," Suster itu mengingatkan dengan senyuman yang lembut dan ramah. Aku diam, terlalu lemas dan bingung untuk mengatakan apapun.
Suster itu keluar kamar setelah sebelumnya mengucapkan selamat jalan dan lekas sembuh.
Bayu dalam sekejap mengangkatku ke dalam pangkuannya, membuatku terkesiap kaget.
"Lepaskan! Turunkan aku! Mau kemana kita?!" Aku memberontak.
"Pulang, kamu sudah sadar dan dokter bilang sudah boleh dirawat jalan." Suaranya yang tenang membuatku kesal.
"Hey, pulang kemana? Aku gak percaya kamu, aku gak kenal om om kayak kamu! Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri!" Aku tak peduli pada suster-suster dan pasien lain yang memandangi kami dengan heran.
"Kamu belum ingat semuanya, kamu baru sadar dari koma yang cukup lama. Sudahlah, lagipula kamu belum kuat jalan sendiri." Cengkramannya di tubuhku makin kuat, walau tak menyakitiku.
Akhirnya aku menyerah, aku terlalu lemah. Aku menangis hingga tertidur di pangkuannya.

Begitu sadar aku sudah berada di dalam sebuah kamar lain yang sama asingnya bagiku, dinding-dindingnya bercat abu muda dan pudar, cahaya yang masuk hanya sedikit dan memberikan kesan suram.
Aku memaksakan diri bangun dari tempat tidur, kakiku rasanya pegal sekali saat digerakan. Dan kepalaku langsung diserang pusing yang berputar-putar. Aku berpegangan ke dinding agar bisa terus berjalan sampai keluar kamar.
Aku mendapati diriku berada di sebuah rumah yang juga bercat abu muda dan suram. Rumah siapa ini? Aku tidak memiliki ingatan sedikitpun tentang rumah ini. Aku berkeliling sebentar.
Lalu aku menyadari suatu keanehan di rumah ini. Tidak ada satupun cermin disini.
Ada beberapa bingkai kayu untuk cermin yang kosong masih tergantung di dinding-dinding rumah ini, di pinggirannya terdapat pecahan cermin yang masih menempel. Binkai-bingkai yang terlihat janggal itu yang menyadarkanku tidak adanya cermin di rumah ini. Ada apa sebenarnya?
Pesawat telepon di meja kayu kecil itu memberikanku sebuah ide yang sebelumnya tak terpikirkan.
Ya, aku harus menelepon Ayah dan Ibu, mereka pasti khawatir sekali. Kupencet serangkaian nomor yang sudah kuhapal betul, nomor telepon rumahku.
"Nomor telepon yang Anda tuju belum terpasang..."
Aku menyerngitkan dahi heran, mungkinkah aku salah pencet nomor? Sekali lagi kupencet nomor telepon rumahku, kali ini dengan lebih pelan dan hati-hati. Tapi nihil, hasilnya tetap sama. Serangkaian nomor itu tak berhasil menyambungkanku dengan keluargaku.
Ah, Tirta! Bersemangat, aku memencet nomor ponsel Tirta yang juga kuhapal betul.
"Nomor telepon yang anda tuju belum terpasang..."
Aku mulai berkeringat dingin, aku tak mau menerima kenyataan yang disodorkan padaku, bahwa masa laluku hanya mimpi belaka.
Ah ya, tentu saja aku harus menelepon polisi! Lelaki 30 tahunan yang mengaku bernama Bayu itu kelihatannya bukan orang baik, dan lagi aku tidak mengenalnya. Mungkin saja dia penculik bukan?
Dengan agak gusar karena rasa takut, aku mulai memencet nomor telepon polisi.
"Rei!" Aku terpekik kaget sehingga gagang telepon itu terlepas dari peganganku. Bayu berjalan cepat ke arahku lalu mencabut kabel telepon itu kasar, kemudian memelototiku. Aku balas memelototinya.
"Kenapa aku tak boleh memakai telepon?"
"Berbahaya, kamu belum boleh berhubungan dengan dunia luar. Kembalilah ke kamar dan tidur." Perkiranku bahwa Bayu akan marah salah besar, suaranya tetap tenang seperti biasa. Sepertinya dia selalu berhasil mengontrol emosinya. Dan itu membuatku kesal.
"Memangnya kenapa?! Aku ingin pulang, aku ingin menelepon keluargaku!" Suaraku sendiri yang terdengar cengeng membuatku semakin kesal.
"Disinilah tempatmu pulang, aku keluargamu. Percayalah padaku, Rei. Aku bukan orang jahat." Suaranya datar tanpa emosi.
Aku berjalan gusar ke arah dinding dimana bingkai cermin kosong tadi tergantung lalu menunjuknya sambil memelototi Bayu. "Lalu apa ini?"
Bayu menghela nafas, berjalan mendekatiku tanpa mengatakan apapun.
"Jawab!" Aku mulai frustasi. "Kenapa tidak ada cermin di rumah ini?! Kenapa kamu memecahkan cermin-cermin ini?!" Aku mencoba mengangkat bingkai cermin kayu itu dari dinding.
Mata Bayu terbelalak kaget, ia mencoba memperingatkanku, "Rei! Itu berat..."
Tapi terlambat, aku terlanjur terhuyung kehilangan keseimbangan. Lalu...
Gelap.

***

Aku dan Tirta sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah. Seperti biasa, Tirta selalu mengantarkanku sampai rumah walalupun hanya naik bis kota lalu jalan kaki masuk ekdalam permahan tempatku tinggal.
"Ta, kemarin saat pulang les, lagi-lagi aku merasa ada yang mengikutiku loh."
"Yaaah, pacarku kan cantik, wajar kalau ada yang ngefans sampai ngikutin gitu. Hahahaha." Suasana hati Tirta hari itu sepertinya sedang sangat bagus, dia terus tertawa dan melontarkan lelucon-lelucon konyol sedari tadi.
"Ih, Tirta! Serius dong ah, kalau aku diculik gimana?" Kataku merajuk, pura-pura marah. Aku selalu suka saat Tirta sedang in a good mood begini.
Well, sejujurnya aku memang selalu menyukai Tirta. Bagaimanapun keadaannya.
"Aduh, Rei, Rei... Penculik juga milih-milih kali..." Aku memukul lengannya pelan lalu merajuk lagi. Tirta tertawa terbahak-bahak.
Walaupun begitu, aku tahu dia sebenarnya peduli, sangat peduli padaku. Dia selalu menemaniku pergi dan pulang sekolah, les pun kadang dia menemaniku kalau tak ada jadwal basket.
Kami telah 6 bulan berpacaran, dan Tirta baik sekali. Aku selalu merasa lebih dan lebih mencintainya lagi setiap harinya. Dn aku merasa beruntung, berterimakasih pada Tuhan yang telah mempertemukan aku dengannya.
Tak terasa kami sudah sampai di depan rumahku.
"Masuk dulu gak, Ta?"
"Gak deh, besok lagi aja ya, aku ada latihan basket sore ini."
Tirta mengecup keningku sekilas, seperti biasa. Lalu melambaikan tangan dan berjalan pulang.
Entah mengapa tiba-tiba saja aku begitu ingin memandangi punggungnya. Sampai dia hilang di tikungan sana, aku enggan masuk ke rumah.
Aku tersenyum memandang punggungnya yang lebar dan bidang.
"Tirta!" panggilku setengah berteriak. Tirta membalikan badan, kaget melihatku masih berdiri memandanginya.
"Apa? Masuk sana, udara dingin. Sepertinya mau hujan," serunya sambil melambaikan tangan.
Terimakasih untuk selalu ada dan menyayangiku, Tirta...
"Makasih ya..." Belum sempat ku selesaikan kalimatku, aku melihat muka Tirta berubah pucat dan matanya membelalak kaget.
"REI, KEPINGGIR!!!"
Aku menoleh ke belakang dan mendapati sebuah sedan hitam berkaca gelap hanya tinggal berjarak beberapa senti dari tubuhku. Lalu, tak ada lagi yang ku ingat selain sakit yang luar biasa saat tubuhku terasa remuk di trotoar.

***

Nafasku terengah-engah saat aku terbangun.
Kecelakaan itu.
Ya, mimpiku tadi pasti kecelakaan yang menimpaku hingga aku jadi seperti ini.
Berarti Tirta bukan mimpi! Aku terduduk dan mendapati Bayu tertidur di sofa sebelah tempat tidurku. Tangan kirinya dilapisi perban putih.
Ah ya, tadi aku pingsan saat mencoba mengangkat bingkai cermin yang berat itu. Aku teringat akan potongan cermin tajam yang masih tersisa di bagian pinggir bingkai, lalu termenung. Bayu terluka karena menyelamatkanku?
Mungkin dia tidak sejahat yang aku pikir.
Sekilas kulihat Bayu menggeliat dan terbangun. Aku mengalihkan pandanganku darinya.
"Kau sudah sadar?" tanyanya sambil berjalan ke arahku lalu memegang keningku. Aku mengangguk pelan. "Jangan melakukan hal bodoh seperti tadi lagi, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu padamu."
Hatiku berdesir. Benar, mungkin dia memang orang baik.
Bayu memakai jaketnya yang tebal lalu berjalan ke arah pintu.
"Mau kemana?" tanyaku.
"Kerja."
"Kerja? Kamu kerja apa?" tanyaku heran, jam dinding sudah menunjukan pukul setengah 8 malam.
"Macam-macam, di konstruksi bangunan, delivery pizza, salesman door to door, apa saja aku kerjakan selama itu menghasilkan uang dan halal." Aku tercenung. Biaya rumah sakitku pasti tak sedikit. Dia telah berusaha keras untuk hidupku, hatiku semakin mantap untuk mempercayainya.

Malam itu Bayu pulang lewat tengah malam lalu masuk ke kamarku untuk mengecek keadaanku. Aku pura-pura tidur saat ia masuk. Ia mengelus rambutku lembut lalu berbisik, "Cepatlah sembuh, Rei."

***

Sudah 2 minggu aku tinggal di rumah Bayu dan hubunganku dengannya sekarang sudah tak seburuk seperti pertama kali kami bertemu. Sekarang ia lebih banyak tersenyum dan kadang tertawa. Akupun sudah tak lagi terlalu mempermasalahkan masalah orangtuaku dan Tirta, toh kalau mereka memang benar ada, mereka akan mencariku sendiri. Lagipula Bayu benar-benar baik padaku.
"Aku pergi dulu ya, jangan keluar rumah." Bayu tidak pernah lupa mengingatkan pesan itu setiap hari saat dia akan pergi bekerja, aku mengangguk seperti biasa. "Hari ini aku pulang larut malam, tidak usah menungguku ya." katanya setelah menghabiskan sarapannya yang berupa roti bakar buatanku.
"Ok, makan malamnya aku simpan di lemari makanan ya, nanti Om tinggal hangatkan saja di microwave."
Bayu mengangguk lalu berjalan ke arah pintu setelah sebelumnya menegak habis susu coklatnya.
Aku mencuci piring sementara Bayu memakai sepatunya.
"Rei," panggilnya tiba-tiba.
"Ya?" sahutku tanpa menoleh, masih konsentrasi pada cucian. Tidak mendengar jawaban Bayu, aku akhirnya menoleh.
Bayu sedang menatapku sambil tersenyum hangat.
"I love you, Kireina."
Piring di tanganku nyaris terjatuh. Hatiku berdegup kencang, tak keruan.
Kenangan yang sudah 2 minggu terkubur mendadak bermunculan lagi di kepalaku, membuat kepalaku sakit. Bayu masih tersenyum padaku, senyumnya hangat dan dewasa. Beda dengan senyum Tirta yang ceria dan bersemangat.
Tentu saja beda, aku mengingatkan diriku sendiri. Untuk apa aku membanding-bandingkan senyum Tirta dan Bayu? Tentu saja beda. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku kuat-kuat, lalu tersenyum kiku pada Bayu.
"Thanks."

Sepeninggalan Bayu, aku nekat pergi keluar rumah.
Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi. Kata-kata Bayu tadi mengingatkanku kembali pada mimpi-mimpiku, yang ku yakini bukan hanya mimpi.
Perumahan ini tampak familiar, walaupun aku tidak bisa mengingat dengan jelas kapan aku pernah melihatnya. Asing, dan tampak aneh di mataku. Apanya yang aneh ya? Modelnya terlalu mewah dan modern sehingga mataku tidak biasa.
"Tante, kok pake piyama kelinci begitu sih? Kaya anak kecil saja, hahaha." Dua orang anak SD yang lewat menunjuk-nunjukku sambil menertawakaknku.
"Hey, aku baru 16 tahun, panggil aku kakak!" kataku, tidak terima dipanggil tante.
Mereka berdua saling lirik bingung lalu berlari sambil tertawa, menertawakanku.
Dengan kesal, aku berbalik arah. Di ujung sana terlihat sebuah taman kecil, aku berjalan ke arah sana.
Sepasang kekasih sedang duduk bercengkrama disana.
Deg.
Hatiku seolah terhenti.
Itu Tirta.
Mimpi-mimpiku selama ini terbukti nyata. Cowok itu sangat mirip Tirta, hanya potongan rambutnya saja yang berbeda.
Tubuhku mendadak lemas. Tirta punya kekasih lain?
Aku terduduk di aspal, seperti lumpuh.

***

"Boleh aku cium kamu?" tanya Tirta malu-malu. Aku mendengus pelan.
"Kamu gak perlu menanyakan hal-hal seperti itu." jawabku dengan muka memerah.
"Hahaha kamu malu."
"Kamu juga kan? Hahaha, kalau kamu mau berjanji akan ada di sisiku selamanya, kamu boleh melakukan itu." jawabku jahil.
"Seumur hidup ya? Hemm, gak jadi deh. Hahaha." Tirta tertawa aku mendengus kesal lalu memukul lengannya.
"Dasar nyebelin!"
Tiba-tiba bibir Tirta menyentuh lembut bibirku yang tengah berceloteh, singkat tapi dalam.
"Bercanda kok, selamanya aku akan ada di sisi Rei. Apapun yang terjadi, aku janji."
Aku tersenyum senang lalu memeluknya

***

Janji itu.
Mengapa dikhianati?
Aku tak mengerti, selama ini yang kupikirkan hanya Tirta.
Tapi ternyata ia sudah memiliki kekasih lain?
Air mataku turun tanpa dapat ditahan, terus mengalir deras seolah tak akan habis.
Sakit, rasanya sakit sekali.
"Rei! Sudah kubilang jangan keluar rumah..." Bayu muncul di belakangku lalu memakaikan jaketnya di tubuhku yang basah, tanpa kusadari hujan telah turun dan membasahi tubuhku hingga menggigil.
"Tirta..." Aku tak sanggup bicara.
"Ayo pulang, badanmu menggigil." Bayu tidak menggubris perkataanku lalu menggendongku. Aku memberontak. Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutku selain sedu sedan tangisku yang tak berhenti sedari tadi.
Bayu tidak mengatakan apa-apa, tapi matanya mencerminkan kepedihan, sama denganku. Ia dengan sabar mencengkramku agar tidak terjatuh, menaikanku ke taksi lalu memelukku yang terus menangis hingga jatuh tertidur di pelukannya.

***

"Tok tok tok."
Tamu? Selama aku tinggal disini belum pernah ada orang yang datang bertamu. Bayu sedang pergi kerja, aku tidak punya pilihan selain membukakan pintu untuk tamu itu sendiri. Akupun berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Mana Om?" tanya sang tamu begitu ku bukakan pintu.
Aku terkesiap seraya menutup mulutku yang menganga.
Itu Tirta.
"Tirta...?" suaraku tercekat.
"Ya, mana Om ku?" katanya ketus. Ada apa ini? Kenapa Tirta tidak mengenaliku? Tirta melirikku dengan sinis dari atas ke bawah. "Kelihatannya kau sudah sehat, kalau sudah bisa jalan, kerja dong! Ringankan beban Om ku walau sedikit." Nadanya meremehkan.
Aku baru akan memegang tangannya saat ia berkata,
"Paling tidak berpakaianlah sesuai umurmu, piyama kelinci seperti itu tidak cocok lagi di tubuhmu, Tante."
Aku bengong. Tak sanggup berkata-kata.
"Sudahlah, tampaknya untuk bicara pun kamu tak bisa, bilang saja pada Om aku mampir saat dia sudah pulang nanti."
Lalu dia pergi.
Aku berjalan sempoyongan seperti kehilangan nyawaku.
Aku berjalan ke arah pecahan cermin di bingkai yang tergantung di dinding.
Ku dekatlan pecahan cermin kecil itu pada wajahku.
Saat melihat pantulannya, aku terkesiap, lalu mengerti.

***

Aku sudah siap dengan baju yang rapi saat Bayu tiba di rumah.
"Rei, mau kemana kamu?"
"Om Bayu mau gak antar aku ke Dufan? Disana tempat kenanganku dan Tirta, aku ingin kesana sekali lagi untuk menghapus semua kenanganku dengan dia." kataku pelan.
Bayu tersenym, matanya terlihat sedih sesaat.
"Boleh, yuk pergi."

Sesampainya di Dufan, aku langsung menyeret tangan Bayu ke arah bianglala.
"Dulu aku dan Tirta pernah kesini, membolos sekolah. Dengan teman-teman yang lain juga, berenam. Saat itu Tirta menemaniku naik bianglala, padahal dia takut ketinggian. Tapi dia tetap naik bersamaku, demi aku." celotehku dengan mata menerawang.
Bayu hanya tersenyum. Kami lalu menaiki salah satu box bianglala.
Sesaat kami hanya terdiam, menikmati pemandangan malam itu dari atas bianglala, sungguh indah.
"Dulu disini Tirta pertama kali menyatakan perasaannya padaku, hahaha... aku senang sekali, rasanya hatiku mau meledak. Om tau perasaanku waktu itu? Rasanya aku tidak akan bisa lebih senang lagi. Lalu dia menciumku. Saat itu rasanya aku seperti gadis paling bahagia di seluruh dunia, aku berjanji dalam hati untuk akan selalu ada di sisinya selama-lamanya."
"Kamu sangat mencintainya ya?" tanya Bayu pelan.
"Ya, sampai sekarang pun masih begitu."
Kami terdiam lagi.
"Om, bolehkah aku duduk di sampingmu?" Bayu mengangguk.
Aku meloncat ke arah Bayu, dan seketika box bianglala itu bergoyang-goyang. Muka Bayu memucat, ia berpegangan erat ke besi pengaman.
"Om takut ketinggian?" tanyaku pelan, nyaris berbisik.
"Engga, mana mungkin..."
"Bohong." Bisikanku mampu menghentikan kalimatnya. "Dasar pembohong."
"Apa maksudmu...? Rei?"Ia tidak menyelesaikan kalimatnya saat melihatku.
Air mataku mengalir terus tanpa bisa kutahan.
"Dasar bodoh, kamu tidak perlu berbohong lagi sekarang..." Suaraku tak lebih dari sebuah bisikan disertai isakan.
"Rei...? Kamu...?" Ia tampak bingung, aku hilang kesabaran. Ku renggut kepalanya dan mendekatkannya ke arahku, lalu dalam dan penuh perasaan, kucium bibirnya.
Ciuman kami terasa menyesakan, disertai air mataku.
Saat ku lepaskan, aku tersenyum dengan air mataku dan Ia terperangah.
"Kamu tidak perlu berbohong lagi,, Tirta, berapa umurku sekarang?"
Kini bukan hanya mataku yang dibanjiri air mata, mata Tirta pun sudah digenangi air mata.
"Terimakasih, Tirta, untuk selama 17 tahun tetap di sisiku... Selalu, selalu disisiku..."
Aku memeluknya erat.
Tirta mengecup keningku lama, penuh perasaan.
"I love you, Kireina..."
***

Namaku Kireina, umurku 33 tahun.
Kecelakaan itu bukan hanya merenggut hidupku, tapi juga hidup Tirta, selama hampir 17 tahun.
Aku bukan terbaring koma selama satu bulan, melainkan 17 tahun.
Selama itu, orangtuaku dan Tirta bekerja keras demi kesembuhanku.
Ayah dan Ibu telah meninggal 4 tahun yang lalu karena mereka hidup tanpa semangat hidup, anak gadis mereka semata wayang tak kunjung sadar dari tidur panjangnya.
Tapi Tirta bertahan, tak punya keinginan lain selain melihatku bangun.
Ia tetap ada di sisiku, mengorbankan masa depannya sendiri.
Janji itu, tak pernah terkhianati.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar