In fact, gue adalah orang yang ga begitu suka dengan fenomena alam yang namanya hujan. Kenapa?
Karena jika hujan turun, rutinitas yang telah diatur sedemikian rupa sebelumnya dalam sebuah planning bisa hancur berantakan. Well, gue bukannya ga bersyukur sama Tuhan yg telah menurunkan hujan ke bumi on a good purpose, tapiii hemm okelah hujan memang bermanfaat untuk alam, tapi kadang hujan bisa jd amat sangat mengesalkan.
Sering sekali gue mendapatkan janji yg telah ada dari lama gagal hanya karena hujan turun. Hemm padahal kan hujan cuma air ya? Ya ya ya, cuma air.
Sejak SD dulu, hujan telah menjadi suatu fenomena yg membawa kesialan dalam hidup gue. Gue bersekolah di sebuah SD Negeri di komplek perumahan dimana gue tinggal, sekolah kecil sih yang muridnya kebanyakan adalah warga sekitar situ situ juga. Nah, di komplek ini, ada seorang wanita tua kurang waras yang biasa dipanggil Iting (buat warga Pasirpogor dan sekitar Ciwastra pasti taulah biografi Si Iting ini, karena sudah eksis disini sejak lama dan sampe sekarang masih ada, dia sangat famous layaknya seorang kembang desa hahahaha). Si Iting ini adalah figur yang ditakuti orang-orang terutama anak-anak, karena dia agak (AGAK???) emosian, budek, dan suka ngamuk ga puguh deh pokoknya.
Nahloh nahloh kok jadi ngalor ngidul sih, jadi apa hubungannya Si Iting dengan hujan? Jelas ada hubungannya. Saat gue masih SD, jika hujan turun di jam-jam sekolah, Si Iting yang notabene nya ga punya rumah untuk berteduh biasanya masuk ke gedung sekolah lalu membuat keributan. Entah hanya berteriak-teriak dalam bahasa sunda, "Rek kamana sia anj***ng???" atau melempar-lemparkan batu ke dalam kelas. Ekstrim sekali bukan? Karena itulah kami, begitu benci jika hujan turun saat jam sekolah.
Setelah beranjak dewasa pun, gue masih tetap tidak menyukai hujan. Karena kalau hujan turun, rambut bisa jadi basah dan lepek, seragampun basah, sepatu basah (ini yang paling menyebalkan, karena kalau sepatu sekolah basah, besoknya gue harus memakai sepatu sekolah yg dulu, yg udah butut. ZZZ bgt kan -,-). Dan yang paling parah, jika janji main dengan teman jadi batal gara-gara hujan, well jujur gue sering sekali mengalami efek hujan yg terakhir ini.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tapiiii
Ehem ehem :">
Aduh percaya ga percaya ya, sekarang gue ngetik entri ini dengan muka memerah dan senyam-senyum sendiri.
Tapi, lalu ada seseorang di hidup gue yang membuat hujan jadi terasa sangat manis dan indah.
Orang itu ada di hidup gue, sebuah elemen paling penting dalam kehidupan gue sekarang.
Seringkali kami, ya gue dan dia, batal pergi karena hujan. Dan kami, juga sering menghadang hujan dalam perjalanan kami. Sering sekali, mungkin karena kebetulan kita kenal saat di Indonesia sedang musim hujan ya.
Sering sekali.
Tapi ada satu hari, dimana hujan terasa benar-benar manis, seperti air gula (ok gue tau ini lebay, maaf). Hari itu adalah salah satu hari di masa masa pengangguran yang begitu indah, selulus sma, sebelum kuliah.
Hari itu dia nganter gue ke kampus gue (well seharusnya saat itu sebutannya calon kampus ya) untuk registrasi fisik jas almamater, seragam, dll.
Dari rumah gue di Ciwastra, ke kampus utama di daerah Geger Kalong (so far yaaa), kita berpetualang pake motor mio dia.
Hari itu hujan turun, deras.
Hari itu kita memakai satu jas hujan untuk berdua.
Hari itu gue manja, seperti biasanya.
Gue bilang, "Punggung aku ga ketutupan jas hujan, basaaaaaaaah"
Lalu tanpa berkata apa-apa, dia melengeluarkan tangannya dari jas hujan, agar jas hujannya sampai ke belakang, menutupi punggung gue.
Saat itu sebuah lagu jadul yang sering Mama dengerin di rumah tiba-tiba ada di kepala gue:
"...the touch of your hand says you'll catch me whenever i fall, you say it BEST, when you say nothing at all..."
Karena jika hujan turun, rutinitas yang telah diatur sedemikian rupa sebelumnya dalam sebuah planning bisa hancur berantakan. Well, gue bukannya ga bersyukur sama Tuhan yg telah menurunkan hujan ke bumi on a good purpose, tapiii hemm okelah hujan memang bermanfaat untuk alam, tapi kadang hujan bisa jd amat sangat mengesalkan.
Sering sekali gue mendapatkan janji yg telah ada dari lama gagal hanya karena hujan turun. Hemm padahal kan hujan cuma air ya? Ya ya ya, cuma air.
Sejak SD dulu, hujan telah menjadi suatu fenomena yg membawa kesialan dalam hidup gue. Gue bersekolah di sebuah SD Negeri di komplek perumahan dimana gue tinggal, sekolah kecil sih yang muridnya kebanyakan adalah warga sekitar situ situ juga. Nah, di komplek ini, ada seorang wanita tua kurang waras yang biasa dipanggil Iting (buat warga Pasirpogor dan sekitar Ciwastra pasti taulah biografi Si Iting ini, karena sudah eksis disini sejak lama dan sampe sekarang masih ada, dia sangat famous layaknya seorang kembang desa hahahaha). Si Iting ini adalah figur yang ditakuti orang-orang terutama anak-anak, karena dia agak (AGAK???) emosian, budek, dan suka ngamuk ga puguh deh pokoknya.
Nahloh nahloh kok jadi ngalor ngidul sih, jadi apa hubungannya Si Iting dengan hujan? Jelas ada hubungannya. Saat gue masih SD, jika hujan turun di jam-jam sekolah, Si Iting yang notabene nya ga punya rumah untuk berteduh biasanya masuk ke gedung sekolah lalu membuat keributan. Entah hanya berteriak-teriak dalam bahasa sunda, "Rek kamana sia anj***ng???" atau melempar-lemparkan batu ke dalam kelas. Ekstrim sekali bukan? Karena itulah kami, begitu benci jika hujan turun saat jam sekolah.
Setelah beranjak dewasa pun, gue masih tetap tidak menyukai hujan. Karena kalau hujan turun, rambut bisa jadi basah dan lepek, seragampun basah, sepatu basah (ini yang paling menyebalkan, karena kalau sepatu sekolah basah, besoknya gue harus memakai sepatu sekolah yg dulu, yg udah butut. ZZZ bgt kan -,-). Dan yang paling parah, jika janji main dengan teman jadi batal gara-gara hujan, well jujur gue sering sekali mengalami efek hujan yg terakhir ini.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tapiiii
Ehem ehem :">
Aduh percaya ga percaya ya, sekarang gue ngetik entri ini dengan muka memerah dan senyam-senyum sendiri.
Tapi, lalu ada seseorang di hidup gue yang membuat hujan jadi terasa sangat manis dan indah.
Orang itu ada di hidup gue, sebuah elemen paling penting dalam kehidupan gue sekarang.
Seringkali kami, ya gue dan dia, batal pergi karena hujan. Dan kami, juga sering menghadang hujan dalam perjalanan kami. Sering sekali, mungkin karena kebetulan kita kenal saat di Indonesia sedang musim hujan ya.
Sering sekali.
Tapi ada satu hari, dimana hujan terasa benar-benar manis, seperti air gula (ok gue tau ini lebay, maaf). Hari itu adalah salah satu hari di masa masa pengangguran yang begitu indah, selulus sma, sebelum kuliah.
Hari itu dia nganter gue ke kampus gue (well seharusnya saat itu sebutannya calon kampus ya) untuk registrasi fisik jas almamater, seragam, dll.
Dari rumah gue di Ciwastra, ke kampus utama di daerah Geger Kalong (so far yaaa), kita berpetualang pake motor mio dia.
Hari itu hujan turun, deras.
Hari itu kita memakai satu jas hujan untuk berdua.
Hari itu gue manja, seperti biasanya.
Gue bilang, "Punggung aku ga ketutupan jas hujan, basaaaaaaaah"
Lalu tanpa berkata apa-apa, dia melengeluarkan tangannya dari jas hujan, agar jas hujannya sampai ke belakang, menutupi punggung gue.
Saat itu sebuah lagu jadul yang sering Mama dengerin di rumah tiba-tiba ada di kepala gue:
"...the touch of your hand says you'll catch me whenever i fall, you say it BEST, when you say nothing at all..."
Hari itu gue berdebar, ya ada sedikit getar di hati gue.
Walaupun gue masih terlalu bodoh untuk mengartikannya.
Hari itu tangan dan kakinya basah kuyup.
Sementara seluruh tubuh gue aman dan kering.
Padahal hari itu, tangannya luka
Karena hari sebelumnya, dia terjatuh
Di perlajalannya pulang setelah mengantarkan gue pulang ke rumah dengan selamat
Padahal hari itu lukanya masih basah
Tapi dia tetap mengiyakan ajakan gue untuk mengantar gue ke kampus yang jauhnya jauh sekali
Padahal hari itu
Dia bisa saja menolak, toh gue bukan siapa-siapanya
Padahal hari itu
Gue bisa saja minta tolong orang lain, toh ada orang yg sudah menawarkan diri juga
Tapi hari itu
Entah kenapa, gue merasa begitu ingin bersama dia
Dan hari itu
Entah kenapa dia tetap rela hujan-hujanan dengan tangannya yg luka,
Demi gue
Ya, say im an egoistic, yes i am.
Kadang gue benci sama keegoisan diri gue sendiri, kadang gue merasa bersalah
Pernah di suatu hari hujan yang lain,
Gue mengutarakan rasa bersalah gue tentang hari hujan itu kepadanya
Then he said, "Gpp ko sayaaang."
Sambil menggenggam erat tangan gue yang melingkar di pinggangnya, dengan tangannya yg basah kuyup. Sementara tangan gue, lagi lagi kering.
Hari itu, gue merasa menjadi orang yg berarti
Setelah begitu lama gue merasa ga ada harga nya
Berkat dia, gue merasa berharga
Hari itu, hanya salah satu dari banyak hari-hari hujan lain yg pernah gue lalui bersama dia
Salah satu yang termanis
Hari itu, adalah 29 Juni 2010
Hari itu, telah 105 hari berlalu
Dilalui dengan hari-hari indah yang lain
Tapi hari itu, akan selalu gue kenang
Semoga dia juga mengenang hari itu dengan senyum, sama seperti gue sekarang
Karena di hari itu, ada 3 elemen paling indah yang begitu pas dipadupadankan bersama:
Hujan, Perjalanan, Kita :)Walaupun gue masih terlalu bodoh untuk mengartikannya.
Hari itu tangan dan kakinya basah kuyup.
Sementara seluruh tubuh gue aman dan kering.
Padahal hari itu, tangannya luka
Karena hari sebelumnya, dia terjatuh
Di perlajalannya pulang setelah mengantarkan gue pulang ke rumah dengan selamat
Padahal hari itu lukanya masih basah
Tapi dia tetap mengiyakan ajakan gue untuk mengantar gue ke kampus yang jauhnya jauh sekali
Padahal hari itu
Dia bisa saja menolak, toh gue bukan siapa-siapanya
Padahal hari itu
Gue bisa saja minta tolong orang lain, toh ada orang yg sudah menawarkan diri juga
Tapi hari itu
Entah kenapa, gue merasa begitu ingin bersama dia
Dan hari itu
Entah kenapa dia tetap rela hujan-hujanan dengan tangannya yg luka,
Demi gue
Ya, say im an egoistic, yes i am.
Kadang gue benci sama keegoisan diri gue sendiri, kadang gue merasa bersalah
Pernah di suatu hari hujan yang lain,
Gue mengutarakan rasa bersalah gue tentang hari hujan itu kepadanya
Then he said, "Gpp ko sayaaang."
Sambil menggenggam erat tangan gue yang melingkar di pinggangnya, dengan tangannya yg basah kuyup. Sementara tangan gue, lagi lagi kering.
Hari itu, gue merasa menjadi orang yg berarti
Setelah begitu lama gue merasa ga ada harga nya
Berkat dia, gue merasa berharga
Hari itu, hanya salah satu dari banyak hari-hari hujan lain yg pernah gue lalui bersama dia
Salah satu yang termanis
Hari itu, adalah 29 Juni 2010
Hari itu, telah 105 hari berlalu
Dilalui dengan hari-hari indah yang lain
Tapi hari itu, akan selalu gue kenang
Semoga dia juga mengenang hari itu dengan senyum, sama seperti gue sekarang
Karena di hari itu, ada 3 elemen paling indah yang begitu pas dipadupadankan bersama:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar