Luna memacu kecepatan dengan honda swift putihnya, nyaris tidak peduli dengan keselamatannya sendiri. Fly over pasteur Bandung di jam setengah 1 dini hari begini memang tergolong sepi sehingga orang orang galau setengah mati macam Luna sekarang bisa sesuka hati menumpahkan kekesalan dengan ngebut disini.
Luna mengemudikan mobilnya berbelok ke Jl. Cipaganti, tanpa tahu jelas kemana tujuannya malam ini. Mungkin Lembang? Atau sekedar cari tempat makan yang tenang di daerah Setiabudhi.
Ini semua salah ibunya. Oh bukan, ini jelas salah ayahnya. Hmm, atau mungkin keduanya? Yang jelas kalau mereka bisa cukup dewasa untuk mempertahankan hubungan agar tetap harmonis, mungkin malam ini Luna sudah terlelap di kamarnya yang nyaman, gelap dan aman.
Apa sebegitu salahnya mendapatkan IP 1,7? Seberapa salahnya kah absen nyaris 50% dalam satu semester jika dibandingkan dengan kesalahan mereka menelantarkan Luna selama berbulan-bulan? Tapi mereka tak pernah mau mengerti, ya mereka pikir Luna bisa tetap hidup damai, menjalani kehidupannya seperti sedia kala dengan keadaan rumah yang seperti neraka. Apakah Luna pernah mengeluh? Tidak. Saat Ayah dan Ibu saling lempar benda pecah belah di rumah, mengganggu tidur lelap Luna dan digantikan isakan tangis, apakah Luna pernah mengeluh? Atau sekedar menangis mengadu pada Ibu atau Ayah? Tidak. Luna berusaha dewasa, menyimpan sendiri lukanya, karena Luna tahu pikiran Ibunya sudah cukup mumet dengan suami yang diam diam memiliki istri muda yang bahkan sudah memberikan adik bagi Luna. Tidak perlu ditambah lagi dengan keluhannya bukan?
Tapi lihat kelakuan ibunya saat menerima laporan hasil UAS tadi, marah marah seperti orang kesetanan. Apa dia tidak sadar, andil siapa yang paling besar dalam kehancuran nilai-nilai Luna itu? Apa dia tidak ingat lagi, kapan tepatnya nilai-nilai Luna yang semula selalu A dengan IP 3 keatas mulai menurun drastis hingga sekarang jadi mayoritas C? Kalaupun dirinya sadar dan ingat, tapi apa pernah dia sekedar mengajak Luna sharing dan mengungkapkan unek-unek yang sudah nyaris 2 tahun ini dia pendam sendiri? TIDAK.
Oh tenang saja, Bu, mulai hari ini aku tidak akan pulang ke rumahmu lagi. Aku akan ke tempat Ayah, atau Nenek, atau Gilang, atau siapapun. Yang jelas aku tidak akan hidup bersamamu lagi.
"SHIT!!!" Luna menonjok stir hingga tangannya terasa nyutnyutan, inilah kebiasaannya sejak lama, memukul benda mati jika kesalnya sudah tak tertahankan.
Tanpa dia sadari, mobilnya sudah membawanya ke daerah Lembang, yang sangat sepi dan gelap di tengah malam hari selasa ini. Diam-diam dia bersyukur, dirinya bukan termasuk orang yang penakut pada hal-hal gaib.
Handphone yang sedari tadi tergeletak di jok sebelah tiba-tiba bergetar.
"Ckck," dengan malas Luna merogohnya dan melihat siapa yang menelepon. Gilanglah yang meneleponnya, lelaki yang sudah 7 bulan ini menjadi kekasihnya.
"Ngapain ni orang nelepon gue jam 1 malem gini? Harusnya orang rajin macam dia sudah di alam mimpi jam segini karena besok kuliah jam 7," pikir Luna. Malas menjelaskan kenapa dia masih menyetir di tengah malam begini, Luna me-reject panggilan itu.
Tak lama kemudian, hp nya bergetar lagi.
Ibu.
Lama didiamkannya panggilan itu. Menertawakan dirinya sendiri yang tidak sangup menekan tombol reject pada panggilan itu. Lalu dibukanya jendela mobil, dan dilemparkannya iPhone seri terbaru itu keluar. Toh ayahnya masih sanggup membelikan 10 buah iPhone yang sama.
Kios mie rebus di pinggir jalan itu menarik perhatian Luna untuk berhenti disana, entah kenapa, padahal Luna tidak lapar. Luna pun memarkir mobilnya lalu keluar dan berjalan ke arah bangku kayu di tenda kios mie rebus kecil itu. Sepasang suami istri berumur sekitar 50-an menyambut Luna dengan ramah dan agak kaget, munkin tidak biasa menerima pembeli seorang gadis di tengah malam nyaris subuh begini. Mendadak Luna menyadari dirinya masih memakai celana pendek dan kaos rumah yang agak terbuka, Luna merasa agak malu dan tidak enak, apalagi pasangan ini sepertinya adalah tipe agamis.
Luna nyengir sedikit untuk menyembunyikan rasa tidak enaknya.
"Mau mie rebus, Neng?" tanya sang istri yang memakai jilbab hitam, ramah.
"Iya, Bu, pake cengek ya," jawab Luna sedikit tersenyum, berusaha ramah.
"Jam segini mendadak lapar ya, Neng?" tanya sang suami lagi sambil setengah berkelakar, ramah sekali.
"Hehe iya, Pak, di kost an ga ada makanan," jawab Luna, berbohong.
Lalu ibu itu pergi ke dalam tenda untuk merebus mie diikuti oleh suaminya, tinggalah Luna sendirian di bangku kayu itu. Merenung, bagaimana rasanya jika yang menjadi orangtuanya adalah pasangan tua yang ramah barusan. Mungkin hidupnya akan damai, walaupun tidak mergelimang harta berlebih seperti sekarang. Setidaknya rumahnya akan terasa hangat, tidak seperti neraka.
"Hey, malem-malem gini ngelamun, kesambet setan loh, hihihi." Tiba-tiba seorang gadis kecil berusia sekitar 10 tahun mencolek lengannya, membuatnya terlonjak kaget. Luna meneliti gadis kecil itu sebelum menjawab, rambutnya dikucir 2, memakai gaun kecil berwarna biru dengan lengan menggelembung seperti putri salju, giginya yang ompong terlihat jelas karena dia terus nyengir sedari tadi.
Yang jelas bukan setan, setan tidak akan terlihat selucu ini alih-alih seram, pikir Luna.
"Kamu juga, malem-malem gini bukannya tidur," tegur Luna sambil tersenyum, mungkin anak ini adalah anak bungsu dari pasangan yang tadi, atau mungkin cucunya.
"Kalau aku, emang sudah biasa begadang, aku ga pernah tidur loh," jawabnya sambil menepuk dadanya, bangga, seolah tidak pernah tidur adalah hal yang mungkin terjadi dan Luna akan mempercayainya.
"Wah, masa? Hebat dong ya kamu. Memangnya besok gak sekolah?" Ada sesuatu pada diri gadis itu yang membuat Luna nyaman, familiar, seolah telah lama mengenalnya.
Gadis kecil itu tampak tidak menghiraukan pertanyaan Luna, dia malah mengambil sebuah pisang susu yang tergantung di dinding sebelahnya lalu melahapnya dengan lahap.
"Kamu suka pisang?" tanyanya pada Luna sambil menyodorkan sebuah pisang susu yang masih utuh. Luna sedikit terkejut ditodong begitu, jujur dulu Luna sangat menyukai pisang, terutama pisang susu. Saat dia masih seusia gadis kecil ini, saat keluarganya adalah keluarga paling harmonis sedunia, Luna sering ngemil pisang susu, bertiga dengan ayah dan ibunya. "Ditanya kok malah senyum sendiri, mau gaaaak?" tegur gadis itu. Ternyata tanpa sadar, Luna tersenyum sendiri tadi, mengenang masa kecilnya yang indah.
"Mau dong, aku juga suka. Nama kamu siapa?" jawab Luna sambil menerima lalu mengupas pisang susu itu.
"Nama ku Bulan, kamu Luna kan?" Luna yang sedang melahap pisang susu langsung tersedak mendengarnya. Segera dia meminum teh manis yang tadi telah disediakan.
Apa betul anak ini setan? pikir Luna panik. Pasti muka Luna yang ketakutan begitu lucu sehingga Bulan tertawa terbahak seperti itu.
"Kaget ya? Hahaha, aku bukan setan kok, Lun, tenang saja," Lagi-lagi dia bisa dengan tepat menebak isi kepala Luna.
"Kamu tahu gak, beda umur kita paling banter tuh 10 tahun, jadi kamu seharusnya memanggilku 'kakak', bukan 'Luna', ok?" kata Luna, masih sambil meneliti Bulan penuh curiga.
"Hahahaha, udah deh ga usah ngeliatin aku kaya gitu, serem tau. Aku gamau manggil kamu 'kakak'"
"Kenapa? Gak sopan ya," rasa heran Luna berubah menjadi rasa sebal dan sedikit takut pada anak ini.
"Arti nama kita kan sama, Luna dan Bulan." Terus apa hubungannyaaaaaaaaaa? pikir Luna gemas.
"Kamu anak ibu penjual mie kan?" tanya Luna memastikan.
"Bukan kok," NAHLOH??? Luna mulai berkeringat dingin.
"Terus? Ngapain kamu di tempat begini malem malem gini?"
"Aku mau nemuin kamu, Luna." Bulan menatap Luna tajam, penuh arti.
"Hmmm, Bulan, kalau kamu mau nakut-nakutin aku, mendingan ga usah deh. Aku pemberani dan aku lagi banyak masalah sekarang, mendingan kamu masuk sana gih, tidur," kata Luna sambil menunjuk pintu kain tempat si ibu penjual mie tadi masuk.
"Aku tau kamu lagi banyak masalah, kamu bertengkar dengan Ibu kan?"
HAAAAAAAH? Luna benar-benar ternganga sekarang. Dia merogoh kunci mobil dari meja, berniat kabur dari anak kecil aneh ini.
"Eiiit, tunggu!" Bulan mencengkram lengan Luna.
"Apa sih?" Luna melepaskan lengannya dari cengkraman Bulan. Bulan duduk tenang, menatap Luna, sama sekali tidak terlihat seperti anak kecil.
"Apa kamu ingat, dulu waktu seumurku, kamu masih tidur dengan Ibu? Sehingga seringkali Ayah mengalah dengan tidur di soffa, karena kasurnya terlalu sempit?"
Luna ternganga.
"Apa kamu ingat, dulu Ibu selalu bangun subuh demi untuk memasakanmu sarapan yang enak sebelum pergi sekolah, karena Ibu pun harus pergi bekerja setelahnya? Apa kamu ingat, dulu ketika uang Ayah belum sebanyak sekarang, ibu selalu membuatkanmu bekal makanan untuk dibawa ke sekolah agar kamu tidak perlu jajan? Apa kamu ingat, Ibu selalu menyempatkan diri membacakan dongeng sebelum tidur untukmu, walaupun dirinya sendiri sangat kelelahan dan mengantuk saat itu? Apakah kamu ingat, dulu ibu menyisihkan sedikit demi sedikit uang dari gaji nya yang tidak besar, untuk membelikanmu handphone karena saat SMP teman-temanmu sudah memiliki handphone sendiri? Tapi tadi, coba lihat apa yang kamu lakukan, Luna, kamu membuang begitu saja handphone mu hanya karena tidak mau menjawab telepon Ibu?"
Air mata Luna jatuh tak tertahan.
"Kamu terluka, Luna, aku tahu. Tapi luka Ibu jauh lebih dalam daripadamu. Pernahkah kamu berpikir, bagaimana rasanya dikhianati suami yang kamu percaya sedemikian rupa? Dan bagaimana rasanya jika anak semata wayangmu, yang kamu sayangi lebih dari apapun, mulai menutup diri, tidak lagi menganggapmu sebagai orang terdekatnya?"
"Aku, aku... aku bukannya menutup diri, tapi Ibu..." Luna tergagap.
"Kamu terperangkap dalam pikiran negatifmu sendiri, Luna, tanpa kamu sadari kamu telah menutup diri pada Ibu sejak 2 tahun yang lalu. Padahal Ibu tidak pernah mau merusak hubunganmu dengannya, ataupun dengan Ayah. Hubungan Ibu dengan Ayah memang sudah hancur, tapi tidak begitu harusnya dengan hubungan kalian. Dewasalah sedikit, Luna, bukan begini caranya. Ibu membutuhkanmu, dan coba tanya ke dalam hatimu, apa kamu masih membutuhkannya?"
Luna terisak hebat, mendapati kenyataan bahwa dirinya masih sangat membutuhkan Ibu, sangat menyayangi Ibu.
"Jangan menangis, Luna, pulanglah. Pulanglah pada Ibu, beliau mungkin sedang menangisimu sekarang. Pulanglah pada kehidupanmu yang dulu, yang cemerlang, dirimu yang pintar dan bermasa depan gemilang, yang banyak teman dan penuh kasih."
"Kamu...?" Luna masih terisak hingga tak mampu berpikir jernih, tapi siapakah Bulan sebenarnya? Malaikat kiriman Tuhan kah?
"Adalah kewajibanku untuk mengembalikan masa depanku yang nyaris hancur ke jalan yang benar," jawabnya misterius sambil tersenyum.
Tunggu, apa katanya tadi? Masa depan nya? Luna makin tidak mengerti.
Bulan lalu melepaskan kalung yang dipakainya, yang berliontinkan sebuah hati yang cukup besar, lalu menyerahkannya pada Luna.
"Ini untukmu, simpan saja ya, jadi kamu punya 2," Bulan tersenyum lagi.
Luna meremas lalu membuka liontin hati itu dengan hati-hati. Liontin yang persis sama dengan miliknya sendiri, yang telah bertahun-tahun hanya disimpan di laci dan tidak dipakai lagi.
Foto Bulan yang tengah tertawa lepas, riang, dicium pipi sebelah kirinya oleh Ibu yang juga tersenyum riang. Ibu dan Bulan, Ibu dan... dirinya? Ya, dirinya sepuluh tahun yang lalu, jauh sebelum hidupnya berantakan seperti sekarang.
Fakta aneh namun nyata itu menyadarkan Luna dari lamunan, Luna mendongak untuk mengucapkan terimakasih pada Bulan. Tapi Bulan sudah tidak ada lagi di hadapannya. Setetes air mata lagi turun di pipinya, kali ini diiringi senyum.
"Terimakasih, Bulan," bisiknya.
Jauh di lubuk hatinya, ia mendengar suara seorang gadis kecil,
"Terimakasih kembali, Luna :)"
Luna mengemudikan mobilnya berbelok ke Jl. Cipaganti, tanpa tahu jelas kemana tujuannya malam ini. Mungkin Lembang? Atau sekedar cari tempat makan yang tenang di daerah Setiabudhi.
Ini semua salah ibunya. Oh bukan, ini jelas salah ayahnya. Hmm, atau mungkin keduanya? Yang jelas kalau mereka bisa cukup dewasa untuk mempertahankan hubungan agar tetap harmonis, mungkin malam ini Luna sudah terlelap di kamarnya yang nyaman, gelap dan aman.
Apa sebegitu salahnya mendapatkan IP 1,7? Seberapa salahnya kah absen nyaris 50% dalam satu semester jika dibandingkan dengan kesalahan mereka menelantarkan Luna selama berbulan-bulan? Tapi mereka tak pernah mau mengerti, ya mereka pikir Luna bisa tetap hidup damai, menjalani kehidupannya seperti sedia kala dengan keadaan rumah yang seperti neraka. Apakah Luna pernah mengeluh? Tidak. Saat Ayah dan Ibu saling lempar benda pecah belah di rumah, mengganggu tidur lelap Luna dan digantikan isakan tangis, apakah Luna pernah mengeluh? Atau sekedar menangis mengadu pada Ibu atau Ayah? Tidak. Luna berusaha dewasa, menyimpan sendiri lukanya, karena Luna tahu pikiran Ibunya sudah cukup mumet dengan suami yang diam diam memiliki istri muda yang bahkan sudah memberikan adik bagi Luna. Tidak perlu ditambah lagi dengan keluhannya bukan?
Tapi lihat kelakuan ibunya saat menerima laporan hasil UAS tadi, marah marah seperti orang kesetanan. Apa dia tidak sadar, andil siapa yang paling besar dalam kehancuran nilai-nilai Luna itu? Apa dia tidak ingat lagi, kapan tepatnya nilai-nilai Luna yang semula selalu A dengan IP 3 keatas mulai menurun drastis hingga sekarang jadi mayoritas C? Kalaupun dirinya sadar dan ingat, tapi apa pernah dia sekedar mengajak Luna sharing dan mengungkapkan unek-unek yang sudah nyaris 2 tahun ini dia pendam sendiri? TIDAK.
Oh tenang saja, Bu, mulai hari ini aku tidak akan pulang ke rumahmu lagi. Aku akan ke tempat Ayah, atau Nenek, atau Gilang, atau siapapun. Yang jelas aku tidak akan hidup bersamamu lagi.
"SHIT!!!" Luna menonjok stir hingga tangannya terasa nyutnyutan, inilah kebiasaannya sejak lama, memukul benda mati jika kesalnya sudah tak tertahankan.
Tanpa dia sadari, mobilnya sudah membawanya ke daerah Lembang, yang sangat sepi dan gelap di tengah malam hari selasa ini. Diam-diam dia bersyukur, dirinya bukan termasuk orang yang penakut pada hal-hal gaib.
Handphone yang sedari tadi tergeletak di jok sebelah tiba-tiba bergetar.
"Ckck," dengan malas Luna merogohnya dan melihat siapa yang menelepon. Gilanglah yang meneleponnya, lelaki yang sudah 7 bulan ini menjadi kekasihnya.
"Ngapain ni orang nelepon gue jam 1 malem gini? Harusnya orang rajin macam dia sudah di alam mimpi jam segini karena besok kuliah jam 7," pikir Luna. Malas menjelaskan kenapa dia masih menyetir di tengah malam begini, Luna me-reject panggilan itu.
Tak lama kemudian, hp nya bergetar lagi.
Ibu.
Lama didiamkannya panggilan itu. Menertawakan dirinya sendiri yang tidak sangup menekan tombol reject pada panggilan itu. Lalu dibukanya jendela mobil, dan dilemparkannya iPhone seri terbaru itu keluar. Toh ayahnya masih sanggup membelikan 10 buah iPhone yang sama.
Kios mie rebus di pinggir jalan itu menarik perhatian Luna untuk berhenti disana, entah kenapa, padahal Luna tidak lapar. Luna pun memarkir mobilnya lalu keluar dan berjalan ke arah bangku kayu di tenda kios mie rebus kecil itu. Sepasang suami istri berumur sekitar 50-an menyambut Luna dengan ramah dan agak kaget, munkin tidak biasa menerima pembeli seorang gadis di tengah malam nyaris subuh begini. Mendadak Luna menyadari dirinya masih memakai celana pendek dan kaos rumah yang agak terbuka, Luna merasa agak malu dan tidak enak, apalagi pasangan ini sepertinya adalah tipe agamis.
Luna nyengir sedikit untuk menyembunyikan rasa tidak enaknya.
"Mau mie rebus, Neng?" tanya sang istri yang memakai jilbab hitam, ramah.
"Iya, Bu, pake cengek ya," jawab Luna sedikit tersenyum, berusaha ramah.
"Jam segini mendadak lapar ya, Neng?" tanya sang suami lagi sambil setengah berkelakar, ramah sekali.
"Hehe iya, Pak, di kost an ga ada makanan," jawab Luna, berbohong.
Lalu ibu itu pergi ke dalam tenda untuk merebus mie diikuti oleh suaminya, tinggalah Luna sendirian di bangku kayu itu. Merenung, bagaimana rasanya jika yang menjadi orangtuanya adalah pasangan tua yang ramah barusan. Mungkin hidupnya akan damai, walaupun tidak mergelimang harta berlebih seperti sekarang. Setidaknya rumahnya akan terasa hangat, tidak seperti neraka.
"Hey, malem-malem gini ngelamun, kesambet setan loh, hihihi." Tiba-tiba seorang gadis kecil berusia sekitar 10 tahun mencolek lengannya, membuatnya terlonjak kaget. Luna meneliti gadis kecil itu sebelum menjawab, rambutnya dikucir 2, memakai gaun kecil berwarna biru dengan lengan menggelembung seperti putri salju, giginya yang ompong terlihat jelas karena dia terus nyengir sedari tadi.
Yang jelas bukan setan, setan tidak akan terlihat selucu ini alih-alih seram, pikir Luna.
"Kamu juga, malem-malem gini bukannya tidur," tegur Luna sambil tersenyum, mungkin anak ini adalah anak bungsu dari pasangan yang tadi, atau mungkin cucunya.
"Kalau aku, emang sudah biasa begadang, aku ga pernah tidur loh," jawabnya sambil menepuk dadanya, bangga, seolah tidak pernah tidur adalah hal yang mungkin terjadi dan Luna akan mempercayainya.
"Wah, masa? Hebat dong ya kamu. Memangnya besok gak sekolah?" Ada sesuatu pada diri gadis itu yang membuat Luna nyaman, familiar, seolah telah lama mengenalnya.
Gadis kecil itu tampak tidak menghiraukan pertanyaan Luna, dia malah mengambil sebuah pisang susu yang tergantung di dinding sebelahnya lalu melahapnya dengan lahap.
"Kamu suka pisang?" tanyanya pada Luna sambil menyodorkan sebuah pisang susu yang masih utuh. Luna sedikit terkejut ditodong begitu, jujur dulu Luna sangat menyukai pisang, terutama pisang susu. Saat dia masih seusia gadis kecil ini, saat keluarganya adalah keluarga paling harmonis sedunia, Luna sering ngemil pisang susu, bertiga dengan ayah dan ibunya. "Ditanya kok malah senyum sendiri, mau gaaaak?" tegur gadis itu. Ternyata tanpa sadar, Luna tersenyum sendiri tadi, mengenang masa kecilnya yang indah.
"Mau dong, aku juga suka. Nama kamu siapa?" jawab Luna sambil menerima lalu mengupas pisang susu itu.
"Nama ku Bulan, kamu Luna kan?" Luna yang sedang melahap pisang susu langsung tersedak mendengarnya. Segera dia meminum teh manis yang tadi telah disediakan.
Apa betul anak ini setan? pikir Luna panik. Pasti muka Luna yang ketakutan begitu lucu sehingga Bulan tertawa terbahak seperti itu.
"Kaget ya? Hahaha, aku bukan setan kok, Lun, tenang saja," Lagi-lagi dia bisa dengan tepat menebak isi kepala Luna.
"Kamu tahu gak, beda umur kita paling banter tuh 10 tahun, jadi kamu seharusnya memanggilku 'kakak', bukan 'Luna', ok?" kata Luna, masih sambil meneliti Bulan penuh curiga.
"Hahahaha, udah deh ga usah ngeliatin aku kaya gitu, serem tau. Aku gamau manggil kamu 'kakak'"
"Kenapa? Gak sopan ya," rasa heran Luna berubah menjadi rasa sebal dan sedikit takut pada anak ini.
"Arti nama kita kan sama, Luna dan Bulan." Terus apa hubungannyaaaaaaaaaa? pikir Luna gemas.
"Kamu anak ibu penjual mie kan?" tanya Luna memastikan.
"Bukan kok," NAHLOH??? Luna mulai berkeringat dingin.
"Terus? Ngapain kamu di tempat begini malem malem gini?"
"Aku mau nemuin kamu, Luna." Bulan menatap Luna tajam, penuh arti.
"Hmmm, Bulan, kalau kamu mau nakut-nakutin aku, mendingan ga usah deh. Aku pemberani dan aku lagi banyak masalah sekarang, mendingan kamu masuk sana gih, tidur," kata Luna sambil menunjuk pintu kain tempat si ibu penjual mie tadi masuk.
"Aku tau kamu lagi banyak masalah, kamu bertengkar dengan Ibu kan?"
HAAAAAAAH? Luna benar-benar ternganga sekarang. Dia merogoh kunci mobil dari meja, berniat kabur dari anak kecil aneh ini.
"Eiiit, tunggu!" Bulan mencengkram lengan Luna.
"Apa sih?" Luna melepaskan lengannya dari cengkraman Bulan. Bulan duduk tenang, menatap Luna, sama sekali tidak terlihat seperti anak kecil.
"Apa kamu ingat, dulu waktu seumurku, kamu masih tidur dengan Ibu? Sehingga seringkali Ayah mengalah dengan tidur di soffa, karena kasurnya terlalu sempit?"
Luna ternganga.
"Apa kamu ingat, dulu Ibu selalu bangun subuh demi untuk memasakanmu sarapan yang enak sebelum pergi sekolah, karena Ibu pun harus pergi bekerja setelahnya? Apa kamu ingat, dulu ketika uang Ayah belum sebanyak sekarang, ibu selalu membuatkanmu bekal makanan untuk dibawa ke sekolah agar kamu tidak perlu jajan? Apa kamu ingat, Ibu selalu menyempatkan diri membacakan dongeng sebelum tidur untukmu, walaupun dirinya sendiri sangat kelelahan dan mengantuk saat itu? Apakah kamu ingat, dulu ibu menyisihkan sedikit demi sedikit uang dari gaji nya yang tidak besar, untuk membelikanmu handphone karena saat SMP teman-temanmu sudah memiliki handphone sendiri? Tapi tadi, coba lihat apa yang kamu lakukan, Luna, kamu membuang begitu saja handphone mu hanya karena tidak mau menjawab telepon Ibu?"
Air mata Luna jatuh tak tertahan.
"Kamu terluka, Luna, aku tahu. Tapi luka Ibu jauh lebih dalam daripadamu. Pernahkah kamu berpikir, bagaimana rasanya dikhianati suami yang kamu percaya sedemikian rupa? Dan bagaimana rasanya jika anak semata wayangmu, yang kamu sayangi lebih dari apapun, mulai menutup diri, tidak lagi menganggapmu sebagai orang terdekatnya?"
"Aku, aku... aku bukannya menutup diri, tapi Ibu..." Luna tergagap.
"Kamu terperangkap dalam pikiran negatifmu sendiri, Luna, tanpa kamu sadari kamu telah menutup diri pada Ibu sejak 2 tahun yang lalu. Padahal Ibu tidak pernah mau merusak hubunganmu dengannya, ataupun dengan Ayah. Hubungan Ibu dengan Ayah memang sudah hancur, tapi tidak begitu harusnya dengan hubungan kalian. Dewasalah sedikit, Luna, bukan begini caranya. Ibu membutuhkanmu, dan coba tanya ke dalam hatimu, apa kamu masih membutuhkannya?"
Luna terisak hebat, mendapati kenyataan bahwa dirinya masih sangat membutuhkan Ibu, sangat menyayangi Ibu.
"Jangan menangis, Luna, pulanglah. Pulanglah pada Ibu, beliau mungkin sedang menangisimu sekarang. Pulanglah pada kehidupanmu yang dulu, yang cemerlang, dirimu yang pintar dan bermasa depan gemilang, yang banyak teman dan penuh kasih."
"Kamu...?" Luna masih terisak hingga tak mampu berpikir jernih, tapi siapakah Bulan sebenarnya? Malaikat kiriman Tuhan kah?
"Adalah kewajibanku untuk mengembalikan masa depanku yang nyaris hancur ke jalan yang benar," jawabnya misterius sambil tersenyum.
Tunggu, apa katanya tadi? Masa depan nya? Luna makin tidak mengerti.
Bulan lalu melepaskan kalung yang dipakainya, yang berliontinkan sebuah hati yang cukup besar, lalu menyerahkannya pada Luna.
"Ini untukmu, simpan saja ya, jadi kamu punya 2," Bulan tersenyum lagi.
Luna meremas lalu membuka liontin hati itu dengan hati-hati. Liontin yang persis sama dengan miliknya sendiri, yang telah bertahun-tahun hanya disimpan di laci dan tidak dipakai lagi.
Foto Bulan yang tengah tertawa lepas, riang, dicium pipi sebelah kirinya oleh Ibu yang juga tersenyum riang. Ibu dan Bulan, Ibu dan... dirinya? Ya, dirinya sepuluh tahun yang lalu, jauh sebelum hidupnya berantakan seperti sekarang.
Fakta aneh namun nyata itu menyadarkan Luna dari lamunan, Luna mendongak untuk mengucapkan terimakasih pada Bulan. Tapi Bulan sudah tidak ada lagi di hadapannya. Setetes air mata lagi turun di pipinya, kali ini diiringi senyum.
"Terimakasih, Bulan," bisiknya.
Jauh di lubuk hatinya, ia mendengar suara seorang gadis kecil,
"Terimakasih kembali, Luna :)"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar