Dingin.
Udara terasa sangat dingin, padahal tidak sedang turun hujan.
Nikky memeluk tubuhnya dengan lengannya sendiri, mendekap ransel besarnya sekuat mungkin, mencoba memberi kehangatan pada tubuhnya yang menggigil.
Bulu kuduk Nikky terasa berdiri di balik sweater yang dipakainya, seingatnya sweater ini cukup tebal untuk menghangatkan tubuhnya. Tapi ternyata tidak di malam ini, dimana ia tengah terduduk sendirian di sebuah perhentian busway.
Nikky menguap, untuk yang kesekian kalinya sejak ia duduk disini nyaris 3 jam yang lalu.
Bagus Nicola, sekarang kau bahkan tidak tau harus tidur dimana malam ini.
Sayup-sayup terdengar suara nyanyian sumbang diiringi sedikit petikan gitar dan suara orang-orang tertawa, Nikky langsung siaga. Instingnya mengatakan orang-orang yang masih berkeliaran di jalan raya pada waktu nyaris tengah malam begini pastilah bukan orang baik. Suara itu terdengar makin mendekat.
“Sendirian aja nih, Cewek?” salah satu yang termuda dari gerombolan pemuda berkaos hitam-bercelana juga hitam-berambut a la Kangen Band itu mencondongkan tubuhnya ke arah Nikky. Umurnya paling tidak 15 tahun, kalau dia bersekolah mungkin masih duduk di bangku kelas 1 SMA, seperti adik Nikky, Satria. Tapi dilihat dari tampang dan penampilannya, Nikky meragukan ia bersekolah.
Nikky memaksakan sebuah senyum ramah untuk mereka. Hal utama yang diajarkan ibunya jika diganggu berandalan adalah; jangan memandang remeh mereka, berikan senyum sopan untuk menghargai mereka, karena mereka akan semakin menjadi jika merasa direndahkan.
“Mau ikut kami, Cantik? Hehehe, daripada dingin sendirian disini mendingan ikut kami, anget...” tawar yang lainnya sambil dengan lancangnya duduk di samping Nikky, diikuti tawa derai 4 temannya yang lain.
Jantung Nikky mulai berdegup kencang.
Rasa menyesal menyergap dirinya, kalau saja tadi ia tidak di dorong emosi sesaatnya untuk kabur dari rumah, mungkin sekarang dia sedang tertidur nyenyak di kamarnya yang hangat dan aman.
Sebuah Mazda RX-8 hitam berhenti tepat di depan mereka, seorang pria berusia sekitar 25 turun dari pintu pengemudi lalu menarik tangan Nikky dengan protektif.
“Adek! Kemana aja kamu? Kakak udah cari kamu kemana-mana, pulang yuk!”
Nikky bengong, gerombolan preman tadi segera bubar, sayup-sayup terdengar gerutuan mereka. Pria tadi menarik tangan Nikky dan menuntunnya masuk ke jok penumpang, lalu ia sendiri duduk di sebelah Nikky setelah sebelumnya memasukan ransel Nikky yang cukup besar ke jok belakang.
Setelah bengong cukup lama karena bingung, akhirnya Nikky dapat bersuara,
“Siapa kamu?”
***
“NiKky?” Nikky menyebutkan nama itu dengan janggal dan heran. “Namamu NiKky?”
“Ya, ada yang salah dengan nama Nicky?” Dia menjawab pertanyaan Nikky dengan pertanyaan lain sambil tetap berkonsentrasi pada kemudinya, memandang fokus pada jalanan yang diterangi lampu-lampu kota.
“Tidak, hanya saja... namaku juga Nikky.”
Dia menoleh dan menatap Nikky sejenak, lalu tersenyum.
Ganteng juga...
“Wah wah waaaa, tampangmu yang begitu kaget seperti mengatakan sebenarnya kita saudara kembar yang terpisah sejak lahir hahaha,” tawanya enak didengar, Nikky ikut tertawa mendengar kelakarnya.
“Hahaha, bukan begitu maksudku. Hanya saja, ini baru pertama kalinya aku berkenalan dengan seorang lain yang juga bernama Nikky.”
“Masa'? Perasaan di Indonesia Nicky adalah nama yang cukup populer, tak jarang orang menamai anaknya dengan nama Nicky. Teman SD ku dulu juga bernama Nicky, tapi dia lelaki, sama sepertiku. Baru kali ini aku bertemu Nicky perempuan.”
“Ya, aku memang sering mendengar nama Nikky, tapi baru kali ini aku berkenalan langsung dengan seseorang bernama Nikky. Namaku sebenarnya Nicola, Nikky adalah nama panggilanku sejak kecil. Omong-omong, bagaimana kau mengeja namamu?”
“N-I-C-K-Y. Kamu?”
“Oh, ternyata beda di penulisan. Aku N-I-K-K-Y.”
Hening sejenak.
“Jadi,” Nicky menoleh lagi dan menatap Nikky sejenak sebelum kembali berkonsentrasi pada kemudinya, “apa yang membuatmu duduk sendirian di tempat seperti tadi pada tengah malam begini?”
“Aku... ini terlalu klasik untuk terjadi di penghujung tahun 2010.” Nicky tertawa mendengarnya. “Apa?”
Nicky menggeleng. “Dipikir-pikir lucu juga, kita baru membicarakan tentang kenapa kamu bisa berada disana sendirian tadi setelah mendebatkan tentang nama kita, padahal coba pikir mana yang lebih penting?” Nikky ikut tertawa, benar juga apa kata Nicky. “Jadi, kenapa? Apanya yang terlalu klasik?”
“Well, aku kabur dari rumah, menggertak ibuku yang berniat menjodohkanku dengan anak rekan bisnis ayahku. Klasik sekali bukan?” Nikky menceritakan secara singkat sejarahnya ia bisa berada di pinggir jalan pada pukul setengah 1 malam dengan sinis. “Oh hmm, sebenarnya 'berniat' bukan kata yang tepat. 'Memaksa' adalah kata yang lebih tepat.” ralat Nikky.
“Hmm, biar kutebak kelanjutannya. Kau sudah memiliki kekasih, orangtuamu tidak mau menerima kenyataan itu dan begitu pula kau, tidak mau menerima keputusan orangtuamu untuk menjodohkanmu. Lalu setelah drama melelahkan yang panjang di rumah, kau akhirnya memutuskan untuk kabur, sebagai bentuk penggertakan agar orangtuamu menyesal telah memaksamu, benar?”
Nikky berpikir sebentar, seolah menilai skenario yang diberikan Nicky.
“Hmm hampir tepat, kecuali bagian kekasih itu. Aku masih jomblo sebenarnya.”
“Loh? Lalu kenapa tidak mau dijodohkan?
-bersambung dulu ah cape-
-bersambung dulu ah cape-